Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

Bisa Ditembus Drone Mainan, Keamanan Gedung Putih Dipertanyakan

Sebuah drone berukuran kecil jatuh di halaman Gedung Putih, Senin (26/1/2015) pagi waktu setempat, memicu aparat keamanan mengumumkan penguncian hingga memastikan tak ada bahaya dalam insiden itu.

Drone tersebut ditemukan sekitar pukul 03.08 dini hari waktu setempat oleh petugas Secret Service berseragam di halaman selatan Gedung Putih. Demikian pernyataan Secret Service, dinas pengamanan presiden AS.

"Petugas mendengar dan menemukan sebuah quad-copter berdiameter kurang dari satu meter, terbang rendah, dan jatuh di sisi tenggara kompleks Gedung Putih," demikian pernyataan Secret Service.

Secret Service menambahkan telah meluncurkan investigasi untuk memastikan asal dari perangkat yang mudah dibeli masyarakat itu, motif, dan mencari tersangka pemilik drone tersebut.

Saat insiden ini terjadi, Presiden Barack Obama dan ibu negara Michelle Obama tidak berada di Gedung Putih. Keduanya tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke India. (Kompas/IDM)

Kim Jong Un Akan Kunjungi Bandung, Ridwan Kamil Grogi

Kota Bandung akan memperingati Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 pada 24 April mendatang. Peringatan tersebut rencananya akan dihadiri oleh para pemimpin negara-negara Asia Afrika yang tergabung dalam konferensi. Menurut Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, salah satu kepala negara yang dijadwalkan hadir ke perhelatan itu adalah pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. 

Pria yang akrab disapa Emil ini pun mengaku grogi bakal kedatangan pemimpin negara yang kontroversial itu. 

"(Para pemimpin negara) akan hadir, termasuk Kim Jong Un. Itu yang bikin nervous karena tokoh ini yang jadi perbincangan dunia," kata Emil saat ditemui di Taman Tegalega, Kota Bandung, Senin (26/1/2015). 

Rasa bangga dan waswas dirasakan Emil sebagai kepala daerah yang bakal dikunjungi oleh orang nomor satu di negara komunis tersebut. Menurut dia, Kota Bandung bakal menjadi sejarah karena ini merupakan kali pertama kunjungan Kim Jong Un dalam urusan diplomasi kenegaraan sejak menjadi pemimpin. 

"Dia belum pernah ke luar negeri secara diplomasi. Sekalinya ke luar negeri ya, ke Indonesia, dan ke Bandung, jadi pasti perhatian dunia akan datang ke sini. Saya sudah sampaikan masalah keamanan lainnya, harus Siaga I," ungkapnya. 

Terkait kedatangan para kepala negara dalam peringatan KAA ke-60, Emil mengaku telah mendapatkan mandat dari pemerintah pusat untuk mengurusi segala sesuatunya. 

"Saya sudah rapat dengan Presiden dan kabinet. Acara peringatan KAA ini terdiri dari dua acara besar, di Jakarta dan Bandung. Puncak acaranya di Bandung," tandasnya. (KOmpas/IDM)

Media Tiongkok Salahkan Jepang Karena Terlibat dalam Koalisi AS

Editorial di sebuah media pemerintah China, Senin (26/1/2015), menyantakan bahwa Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe harus disalahkan atas kematian seorang sandera asal negeri sakura itu di tangan Islamic State (IS). 

IS, Minggu kemarin, mengatakan, pihaknya telah mengeksekusi Haruna Yukawa, salah satu dari dua sandera asal Jepang yang sedang ditawan IS karena keterlibatan jepang dalam koalisi AS. Pemenggalan itu dikencam oleh AS dan sekutunya.

Namun harian Global Times dari Tiongkok, yang berafiliasi dengan People's Daily yang merupakan corong Partai Komunis, menulis dalam sebuah editorial bahwa dukungan pemimpin Jepang itu terhadap AS telah menyeret Tokyo ke dalam konflik, walau "negara-negara Asia Timur tidak menjadi target utama (IS)". "Pembunuhan sandera Jepang merupakan harga yang harus dibayar Jepang atas dukungannya terhadap Washington," kata surat kabar itu dalam editorialnya, yang berjudul "Strategi Abe Semakin Jelas Setelah Krisis Penyanderaan".

Menurut harian tersebut, Abe bisa berusaha menggunakan krisis penyanderaan tersebut itu untuk mencabut konstitusi pasifis Jepang yang pertama kali diterapkan AS setelah Perang Dunia II.

Beijing dan Tokyo telah berseteru terkait sengketa teritorial di Laut China Timur, dan walau negara ekonomi kedua dan ketiga terbesar di dunia memiliki hubungan bisnis yang dekat, hubungan politik mereka sangat diwarnai oleh sejarah.

Abe menyebut pembunuhan Yukawa "keterlaluan dan tidak dapat dimaafkan" dan menyerukan pembebasan segera bagi tawanan Jepang lainnya, yaitu wartawan lepas Kenji Goto.

IS awalnya menuntut Jepang untuk membayat uang tebusan 200 juta dollar AS dalam batas waktu 72 jam sejak Selasa lalu. Namun Abe bersumpah bahwa Tokyo tidak akan pernah tunduk pada IS. Dalam video terbaru, IS tidak lagi menuntut uang, namun menuntut jepang mendesak Yordania agar membebaskan tahanan muslimah yang bernama "Sajidah Al-Rashawi". (Kompas/IDM)

400 Ahli Misil Tiongkok Bergabung dengan IS

Khilafah Islamiyah / Islamic State (IS) menjadi suatu fenomena tersendiri dan banyak menyita perhatian dunia sejak satu tahun lalu. Terlebih hampir setiap hari ratusan orang-orang dari pelosok dunia yang datang dan bergabung dengan mereka,baik yang ada di Irak maupun Suriah. Sebagaimana yang dikabarkan oleh seorang wartawan jerman yang berkunjung ke IS, beliau menyaksikan bahwa setiap harinya datang minimal 150 orang dari berbagai negara.

Untuk mengabarkan dan mengupdate berita, pihak IS memanfaatkan lama-laman media sosial, internet, dan sekarang malah sudah mendirikan stasiun teve Khilafah.

Kabar terbaru dari lama Facebook Syam Today Beurita (24/1) mengabarkan jika ada sekira 400 ilmuwan asal Tiongkok Pakar Misil yang datang bergabung dengan IS. Berita ini belum dikonfirmasi lewat laman-laman website yang biasa ditulis Daulah Islamiyah, namun bukan mustahil hal ini benar adanya mengingat sekarang ini saja sudah ribuan orang-orang Eropa, Amerika, dan Australia yang bergabung ke sana, termasuk lusinan tentara aktif Perancis yang dikabarkan kemarin bergabung dan 3.000 tentara aktif Perancis lainnya yang sekarang tengah menjalani pengawasan khusus karena pihak intelijen Australia mencium jika ribuan tentara Australia tersebut bersimpati dan ingin bergabung dengan IS . (rz/ibtimes.co.uk/IDM)

{Video] Bagaimana Suasana Kehidupan di Islamic State?

IS baru saja merilis video "kehidupan di khilafah", dalam video tersebut terlihat senangnya rakyat dapat hidup di bawah pemerintahan IS yang menjalankan syariat islam. Hal itu wajar, mengingat sebelumnya mereka hidup dalam rezim syiah yang keji terhadap muslim sunni. Video ini direkam di Halb, salah satu provinsi Islamic State. Mereka mengakui senang dan bersyukur dapat hidup di bawah naungan Khilafah.

Dengan di[erintah oleh IS, mereka menjadi semakin paham perkara-perkara agama. Sebelumnya pemahaman agama mereka dikubur dalam-dalam oleh pemerintah Rezim Bashar Al-Asad dahulu. Pasar-pasar dan segala kegiatan dihentikan saat waktu shalat tiba. Tanpa takut barang dagangan mereka hilang, mereka menuju masjid dengan tanpa rasa khawatir.




Pasukan Komunis Kurdi Serang Mosul dengan Gas Beracun

IS mengeluarkan statemen bahwa Peshmerga (pasukan komunis kurdi) telah melakukan kejahatan perang luar biasa terhadap rakyat sipil di provinsi Mosul, Irak. Mosul adalah wilayah yang telah dikuasai IS, dimana IS telah membangun dan mengatur wilayah ini sehingga tercipta keamanan dan kenyamanan. Namun hal itu sempat dirusak oleh Peshmerga yang menggunakan gas beracun yang berasal dari AS.

Dalam insiden ini, puluhan rakyat sipil menjadi korban. "Dalam sebuah agresi baru Koalisi Pasukan Salib kepada kaum Muslimin, militan Peshmerga Kurdi sore ini membombardir kaum Muslimin dengan gas beracun di Distrik ‘Uraybi dan Islah Al-Zira’ei, yang mengakibatkan gugurnya puluhan kaum Muslimin karena keracunan dan melukasi puluhan lainnya; dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung" begitu salah satu potongan statemen IS. Statemen itu dapat dilihat Disini.

Peshmerga telah lama digunakan oleh AS sebagai bentuk proxy war terhadap IS. AS sendiri tetap ngotot tidak akan mengirikan pasukannya sendiri, namun menggunakan komunis kurdi dan FSA dalam melawan IS. AS khawatir jika mengirimkan tentaranya maka akan terjadi perang Iraq jilid 2, yang mana telah menewaskan puluhan ribu tentara AS, sebagian cacat permanen dan sebagian mengalami gangguan mental (gila). Apalagi kini orang yang dihadapi dahulu jauh lebih kuat. (IDM)

Bendung Serangan Jihadis, Prancis Anggarkan 490 juta dolar

Langkah-langkah baru Perancis itu mencakup dari mempekerjakan hampir 2.700 personil keamanan baru, hingga merekrut lebih banyak Imam bayaran untuk penjara-penjara Perancis dan memberikan informasi di Internet yang bertujuan mencegah kaum muda menjadi jihadis.

Berbicara hari Rabu (21/1) di televisi, Perdana Menteri Manuel Valls mengatakan pemerintah akan menggunakan dana tambahan $490 juta selama tiga tahun ke depan untuk membiayai kegiatan-kegiatan itu.

PM Valls mengatakan perlindungan bagi polisi dan aparat keamanan akan ditingkatkan untuk mengantisipasi adanya senjata-senjata perang di jalanan. Tiga orang polisi tewas dalam serangan jihadis awal bulan ini.

Selain itu, Perdana Menteri itu mengatakan pemerintah akan memperkuat perlawanan terhadap gerakan jihad dunia maya, dan meningkatkan pengawasan terhadap para tersangka teroris. Ia mengatakan pengawasan diperlukan saat ini terhadap sekitar 3.000 tersangka teroris di Prancis dan di luar negeri. Para pejabat pemerintah juga memperkirakan sekitar 1.200 warga negara Perancis telah bergabung dengan kelompok-kelompok jihad di Timur Tengah.

Sementara itu, Presiden Francois Hollande mengatakan pemerintah akan tetap mempertahankan ribuan lapangan kerja bidang pertahanan yang sedianya akan ditiadakan. Informasi ini diumumkan pada saatdakwaan awal diajukan terhadap empat laki-laki yang dicurigai memberikan bantuan kepada Amedy Coulibaly, salah satu pelaku serangan di Paris.

Perancis bukan satu-satunya negara Eropa yang waspada terhadap gerakan jihad. Polisi Belgia meluncurkan razia minggu lalu terhadap oknum-oknum Islamis yang diduga merencanakan aksi penyerangan. Penggerebekan dan penangkapan juga terjadi di Jerman.

Dalam pertemuan minggu ini, para menteri luar negeri Uni Eropa sepakat untuk meningkatkan pertukaran informasi intelijen untuk melawan ancaman-ancaman jihadis. 

Langkah-langkah baru Perancis ini telah menuai berbagai reaksi. Juru bicara untuk partai oposisi kanan tengah UMP, Sebastien Huyghe, menyalahkan pemerintah yang berhaluan kiri atas reaksi yang terlalu lambat terhadap gerakan jihad.

Bagaimana pun upayaeropa dalam membendung serangan jihadis, maka dirasa percuma jika tidak fokus pada permasalahan utama. Yaitu kebijakan luar ngeri mereka yang terlampau buas dalam membunuhi umat islam di berbagai negri. Selama drone-drone eropa masih membunuhi bayi-bayi umat islam, bagaimana mungkin eropa bisa hidup aman?! (VOA/IDM)
⬆
Top