Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

Rusia Tutup Penerbangan ke Ukraina

Pemerintah Rusia mengaku akan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan ke Ukraina. Kebijakan ini mulai diterapkan pada 25 Oktober mendatang. Langkah ini diambil sebagai balasan atas larangan terbang yang diterapkan Ukraina terhadap dua maskapai penerbangan milik Rusia.

"Atas instruksi dari Perdana Menteri Rusia, Dmitri Medvedev, agen transportasi federal diminta untuk menginformasikan kepada maskapai penerbangan Ukraina yang menyediakan penerbangan ke Rusia, bahwa mereka dilarang untuk menggunakan wilayah udara Rusia mulai dari 25 Oktober," begitu pernyataan yang disalin laman AFP dari kantor berita Tass, mengutip pernyataan seorang juru bicara Kementerian Transportasi Rusia, Selasa (29/9/2015).

Keputusan ini dikeluarkan Kremlin sebagai tanggapan atas keputusan Ukraina pekan lalu, yang melarang maskapai penerbangan milik Rusia, Aeroflot dan Transero terbang menuju negara itu. Larangan itu juga diterapkan mulai dari 25 Oktober. Tidak hanya itu, Ukraina juga melarang penerbangan transit dari Rusia jika pesawat tersebut membawa personel militer atau barang mulitifungsi.

Keputusan yang dikeluarkan oleh Ukraina itu bertujuan menghukum Rusia atas pencaplokan Crimea dan dugaan dukungan untuk kelompok separatis etnis Rusia di Ukraina timur.

Sebelumnya, pada 16 September lalu, Presiden Ukraina Petro Poroshenko memperluas daftar sanksi terhadap sejumlah perusahaan-perusahaan asal Rusia dan sejumlah individu, hingga 400 pejabat dan 90 perusahaan. (Sindo/infoduniamiliter)

Link:  http://www.infoduniamiliter.com/2015/09/rusia-tutup-penerbangan-ke-ukraina.html

Ukraina Perketat Izin Masuk ke Crimea

Pemerintah Ukraina masih terus menganggap Crimea sebagai bagian dari wilayah mereka, walaupun Crimea yang memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan federasi Rusia. Ini terlihat dari peraturan baru yang dibuat oleh pemerintah Ukraina mengenai tatacara bagi warga asing untuk memasuki wilayah itu.

"Pada 4 Juni 2015, Kabinet Menteri Ukraina menyetujui Resolusi No. 367, Penetapan Prosedur untuk masuk ke dan keluar dari Republik Otonomi Crimea, Ukraina," bunyi pernyataan Kedutaan Besar Ukraina yang diterima Sindonews pada Senin (10/8/2015).

Menurut pernyataan tersebut, resolusi ini merupakan pelengkap dari peraturan yang ada sebelumnya mengenai wilayah otonomi Crimea.

Resolusi itu berisi dua poin, yaitu setiap warga asing yang ingin masuk dan keluar Crime harus melalui titik yang telah ditentukan oleh pemerintah Ukraina, dan harus menunjukkan paspor yang masih berlaku dan formulir perizinan pada saat masuk dan keluar.

"Formulir perizinan dikeluarkan oleh Kantor Pelayanan Imigrasi Ukraina dengan menunjukkan sejumlah dokumen termasuk di dalamnya yang dapat memperkuat alasan sah untuk mengunjungi Crimea," sambungnya.

Berdasarkan pernyatan itu, hanya terdapat beberapa alasan yang bisa digunakan warga asing untuk bisa memasuki Crima. "Daftar alasan yang dianggap sah sangat terbatas: kepemilikan lahan properti di Krimea, kunjungan ke kerabat dekat atau anggota keluarga, keperluan untuk menjalankan fungsi diplomatik atau konsuler, dan lain-lain," imbuhnya.

"Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan hal ini tidak dapat diajukan dari luar wilayah Ukraina. Segala bentuk kunjungan ke Crimea harus dikoordinasikan dengan pihak berwenang Ukraina. Apabila terjadi pelanggaran terkait prosedur masuk ini, pihak yang bertanggungjawab akan menghadapi pembatasan sesuai dengan undang-undang Ukraina, termasuk pelarangan untuk masuk ke Ukraina," pungkas pernyataan Kedubes Ukraina.

Kedubes Ukraina di Jakarta sendiri mengatakan siap membantu, dengan memberikan keterangan lebih lanjut kepada warga Indonesia yang ingin melakukan kunjungan ke wilayah yang berada di Laut Hitam tersebut. (Sindo/infoduniamiliter)

Link:  http://bit.ly/1Tf0hNJ

AS Latihan Besar-besaran di Ukraina, Rusia Marah

Amerika Serikat (AS) memimpin latihan perang besar-besaran yang melibatkan 18 ribu tentara dari 18 negara termasuk sekutu-sekutu NATO di Ukraina timur. Latihan perang besar-besaran ini membuat Rusia marah karena bisa jadi ancaman gencatan senjata yang sudah berjalan di Ukraina.

Latihan perang ini akan berlangsung selama dua minggu ke depan. Manuver militer 18 negara ini berlangsung di saat Rusia krisis dana militer setelah terjebak dalam krisis Ukraina selama 15 bulan, di mana Rusia jadi bulan-bulanan penjatuhan sanksi negara-negara Barat.

Rusia dimusuhi Ukraina dan negara-negara Barat setelah dituduh mendukung separatis pro-Rusia di Ukraina timur. Konflik di Ukraina hingga kini belum mereda meski korban tewas telah mencapai lebih dari 6.500 jiwa.

”Manuver bersama ini menunjukkan dukungan luas untuk Ukraina dalam perjuangannya untuk mempertahankan kebebasan dan kedaulatan,” kata komandan pasukan Ukraina, Oleksandr Syvak, menjelang latihan perang.

Selain Ukraina dan AS, pasukan dari sekutu-sekutu NATO seperti Jerman, Spanyol, Turki, Kanada, Polandia, Rumania, Bulgaria, Estonia, Latvia dan Lithuania ikut bergabung. Beberapa negara non-anggota NATO seperti Serbia, Moldova, Georgia dan Azerbaijan juga ikut-ikutan ambil bagian dalam manuver militer besar-besaran ini.

Sementara itu, Rusia yang marah dengan cepat mengutuk latihan perang besar-besaran ini. Rusia menganggap manuver militer NATO di Ukraina tersebut sebagai ancaman gencatan senjata yang sudah berjalan beberapa bulan.  

"NATO harus memahami bahwa tindakan tersebut mungkin mengancam untuk mengganggu kemajuan yang terlihat dalam proses perdamaian terkait krisis internal di Ukraina," kata Kementerian Luar Negeri Rusia, seperti dilansir Russia Today, Selasa (21/7/2015).
(mas/sindo/infoduniamiliter)

Link:  http://bit.ly/1COIsh8

Ukraina Peringati Satu Tahun Penembakan Pesawat MH17

Rakyat Ukraina hari Jumat memperingati genap satu tahun penembak jatuhan pesawat penumpang Malaysian Airlines penerbangan MH17 dengan sebuah misil di angkasa bagian timur negara itu yang dikuasai pemberontak.
Orang datang membawa bunga, mainan dan pesawat terbang kertas dengan pesan kepada kedutaan Belanda, dimana bendera Belanda dinaikkan setengah tiang. Mayoritas ke-298 orang yang tewas dalam pesawat itu adalah warga-negara Belanda.
Peringatan serupa diadakan di Moskow dimana puluhan orang berkumpul di luar kedutaan Belanda, juga membawa bunga dan pesawat terbang kertas dengan nama-nama korban penembakan itu.
Presiden Ukraina Petro Poroshenko hari Jumat menyebut penembak jatuhan penerbangan MH17 “serangan teroris yang keji” dan mengatakan tembakan maut misil itu hanya dapat terjadi dengan partisipasi dari Rusia.
Poroshenko berbicara melalui telepon hari Jumat dengan Wakil Presiden Amerika Joe Biden, dan kedua pemimpin sependapat mengenai pentingnya dan mendesaknya pencarian keadilan atas penembak jatuhan MH-17.
Gedung Putih mengatakan Biden juga menjanjikan dukungan Amerika bagi usaha bersama Ukraina, Negeri belanda, Malaysia, Australia dan Belgia untuk mencari keadilan dalam kasus itu.
Warga Australia, Belgia dan Malaysia juga tewas dalam musibah itu.
Di PBB, Duta Besar Amerika Samantha Power mengatakan Amerika Serikat mendukung pelaksanaan Resolusi 2166, yang menuntut penyelidikan internasional penuh dan independen penembak jatuhan MH-17. Dia mendesak masyarakat internasional untuk memastikan orang-orang yang bertanggung jawab diseret ke pengadilan.
Ukraina menyalahkan pemberontak pro-Rusia atas insiden itu. Rusia dan pemberontak membantah bertanggung jawab dan menuduh pasukan Ukraina. (Voa/infoduniamiliter)

Inggris Mungkin Akan Persenjatai Ukraina

Mantan Duta Besar Inggris untuk Rusia, Sir Andrew Wood mengatakan, Inggris mungkin akan mulai mengirimkan senjata dan alat-alat militer ke Ukraina. Hal ini dikarenakan Inggris mulai merasa terancam oleh Rusia.

"Inggris mungkin akan terpaksa untuk mengirimkan senjata mematikan ke Ukraina, jika kita terus merasakan ancaman dari Rusia," kata Wood dalam sebuah pernyataan.

"Saya pikir kita (Inggris) mungkin akan didorong untuk hal itu jika Rusia terus membuat kebijakan yang lebih agresif di Ukraina," sambung Wood, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (16/7/2015).

Ketika disinggung apakah Inggris akan menunggu Amerika Serikat (AS) untuk mengirimkan senjata, sebelum akhirnya turut mengirimkan senjata mematikan ke Ukraina, Wood hanya mengatakan semua pilihan masih memungkinkan.

"Inggris akan mempertimbangkan untuk mengambil langkah apa yang diperlukan, jika situasi memang memungkinkan untuk melakukan hal itu," imbuhnya.

Sejauh ini, Inggris bersama dengan AS dan Kanada baru mengirimkan alat-alat pertahanan militer, dan penasihat militer untuk melatih tentara Ukraina, untuk membantu negara tersebut melawan separatis di Ukraina timur. (Sindo/infoduniamiliter)

Link: http://tinyurl.com/ou2pa6x

Tank-tank Rusia Muncul di Ukraina

Sebuah video bidikan kamera drone atau pesawat nirawak milik milisi pro-Ukraina menunjukkan bahwa tank-tank tempur Rusia dan peralatan perang lainnya bermunculan di Ukraina timur. Pihak Ukraina pun menuding Presiden Rusia, Vladimir Putin benar-benar ingin “melahap” wilayah Ukraina.

Para pejabat keamanan Ukraina yang dikutip Bloomberg, menuduh ada lima jenderal Rusia yang memainkan peran utama dalam komandan unit separatis di Ukraina timur. Namun, Kremlin membantah tuduhan itu.

Bukti rekaman drone yang menunjukkan tank-tank tempur Rusia di markas militrer di Ukraina timur itu pertama kali dilaporkan oleh The Daily Beast. Dalam laporannya, media tersebut menyatakan bahwa hasil rekaman pada awalnya menunjukkan beberapa tenda dan kendaraan. Namun, drone yang terbang di atas wilayah yang sama dua minggu kemudian, memperlihatkan basis militer itu sudah dipenuhi tank-tanka tempur Rusia.

Analis militer Fox News, pensiunan Mayor Jenderal Bob Scales, mengatakan strategi Putin dilakukan secara tertata. ”Putin punya banyak waktu untuk melakukan hal ini, dia tidak terburu-buru,” kata Scales, Sabtu (4/7/2015).

Tuduhan tindakan militer Rusia yang semakin agresif di Ukraina timur juga disampaikan Sekretaris Jederal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg. ”Kami melihat Rusia lebih tegas dan mencoba untuk mengintimidasi tetangganya serta mengubah perbatasan,” kata Stoltenberg.

Komentar Sekjen NATO itu muncul setelah memeriksa salah satu dari enam pangkalan baru militer NATO yang disiapkan di Rumania dan negara-negara Baltik. Pembangunan enam pangkalan militer baru NATO itu diklaim sebagai tanggapan terhadap tindakan Rusia di Ukraina. Langkah NATO ini merupakan aksi penguatan militer terbebesar sejak akhir Perang Dingin.

Tudingan terbaru terhadap Rusia tersebut hanya berselang sehari setelah Amerika Serikat (AS) merilis dokumen “Strategi Militer Nasional” yang menyudutkan Rusia. Dalam dokumen itu, AS terang-terangan menyatakan bahwa Rusia tujuh kali lebih mengancam ketimbang Negara Islam (IS). Namun AS dan Rusia masih menghindari konfrontasi langsung, karena dikhawatirkan akan merugikan kedua belah pihak. 

Kremlin marah menanggapi dokumen strategi militer baru AS tersebut. Kremlin menyebut, dokumen strategi militer AS itu konfrontatif.
(mas/sindo/infoduniamiliter)

Perang Kembali Pecah, 6 Tentara Ukraina Tewas

Perang sengit antara tentara Ukraina dengan separatis pro-Rusia pecah di Ukraina timur. Sebanyak enam tentara Ukraina tewas dan 14 lainnya terluka.

Menurut militer Ukraina pada Sabtu (13/6/2015), pertempuran terjadi dalam 24 jam terakhir. Perang itu kembali merusak gencatan senjata yang telah disepakati semua pihak dalam perjanjian damai di Minsk, Belarusia beberapa bulan lalu.

Juru bicara militer Ukraina, Andriy Lysenko, mengatakan situasi di sekitar Bandara Donetsk saat ini tegang. ”Musuh mengerahkan tank, kendaraan lapis baja dan artileri berat ke dalam pertempuran. Kami menekankan bahwa pemberontak juga menembaki daerah pemukiman,” katanya dalam sebuah briefing.

Dia menegaskan para korban tewas adalah akibat dari penembakan yang dilakukan separatis pro-Rusia. Dia tidak menjelaskan, apakah ada korban dari kubu separatis pro-Rusia dalam perang itu.

Sementara itu, pejabat dari kubu separatis pro-Rusia menuduh balik pasukan Ukraina yang menembaki Desa Oktyabrsky, di Donetsk, yang melukai dua warga sipil. Pasukan Ukraina juga dituduh menembaki tiga wilayah kota dalam beberapa hari ini.

Sebelumnya, Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) mengatakan bahwa meskipun sudah disepakati semua pihak dalam perjanjian damai di Minsk, kedua kubu belum sepenuhnya menarik persenjatan berat.
(mas/sindo/infoduniamiliter )

Ukraina Memanas Lagi, 5 Tentara Tewas

Perang di Ukraina timur antara pasukan Pemerintah Ukraina dengan separatis pro-Rusia kembali memanas. Lima serdadu Pemerintah Ukraina yang beribukota di Kiev dilaporkan tewas.

Pembantu Presiden Ukraina, Yuri Biryukov, pada Kamis (4/6/2015), melaporkan kematiann lima pasukan Ukraina itu di halaman Facebook-nya. Selain lima serdadu tewas, ada 39 prajurit lainnya yang terluka dalam pertempuran di dekat Kota Maryinka, Ukraina timur.

Dalam pertempuran itu, kedua pihak sama-sama menggunakan senjata berat. Dengan demikian, perang itu telah merusak gencatan senjata yang disepakati dalam perundingan damai di Minsk, Belarusia pada Februari 2015 lalu.

Pihak militer Ukraina mengatakan situasi di dekat Kota Maryinka tetap tegang, tapi stabil. ”Pada tiga kesempatan, milisi (separatis) menyerang posisi kami pada malam hari. Pada saat ini ada operasi menemukan kelompok yang menyabotase (gencatan senjata),” bunyi pernyataan militer Ukraina melalui seorang juru bicara, seperti dilansir Reuters.

Para pemberontak di Ukraina timur menyalahkan pasukan Kiev. Versi pemberontak, ada 19 korban tewas yang terdiri dari 15 warga sipil dan empat milii mereka.

Rusia menuding Kiev telah mengingkari gencatan senjata. Sedangkan Amerika Serikat (AS) menuding Moskow bertanggung jawab untuk menghentikan pertempuran yang dilakukan para pemberontak.
(mas/sindo/infoduniamiliter )

IS Bagikan Zakat di Dijlah

Departemen Zakat Islamic State di wilayah Dijlah, kembali membagi-bagikan hak-hak zakat bagi kaum muslimin yang berhak menerimanya di kota Hadhir, sebagaimana yang terdokumentasikan dengan baik oleh kantor berita wilayah setempat. (azzammedia /infoduniamiliter )




Presiden Ukraina: Ini Perang Nyata dengan Rusia

Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, melontarkan pernyataan yang diyakini akan memicu kemarahan baru di Kremlin. Menurutnya, eskalasi ketegangan antara Ukraina dan Rusia bisa meningkat setiap saat.

"Saya jelaskan pada Anda, ini bukan perang dengan separatis yang didukung oleh Rusia, tapi perang nyata dengan Rusia,” tegas Poroshenko dalam wawancara dengan BBC, Rabu (20/5). Pernyataan ini didasari pada fakta tertangkapnya dua anggota pasukan khusus Rusia di Ukraina.

Selama ini, Rusia selalu menyangkal keterlibatan militer mereka dalam konflik di Ukraina, meski ada sederet bukti. “Faktanya, kami menangkap anggota pasukan khusus Rusia. Ini adalah bukti kuat,” lanjut presiden yang sangat pro dengan Barat itu.

Sebelumnya, Militer Ukraina telah memamerkan dua orang yang dituding sebagai anggota pasukan khusus Rusia. Menurut Militer Ukraina, keduanya memasuki medan pertempuran sejak dua bulan lalu. Keduanya ditangkap saat terlibat pertempuran di daerah Lugansk dan berasal dari Unit Pengintai Tentara Rusia.

Seorang juru bicara Ukraina Security Service mengatakan, tersangka telah didakwa dengan keterlibatan dalam "kegiatan teroris" dan sudah diberi kesempatan untuk menelepon keluarga mereka di Rusia.

Rusia sendiri tetap tak mengakui kedua orang itu sebagai anggota pasukan khusus mereka. ”Pada saat penangkapan mereka tanggal 17 Mei 2015, kedua warga Rusia yang ditangkap yakni Aleksandr Aleksandrov dan Yevgeni Yerofeev bukan anggota aktif dari Angkatan Bersenjata Federasi Rusia,” jelas juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov.
(esn/sindo/infoduniamiliter )

Ukraina Tangkap 2 Tentara Rusia

Situasi di Ukraina timur memanas lagi setelah pertempuran kecil pecah dan menewaskan tiga tentara Ukraina. Yang mengejutkan, Ukraina menangkap dua tentara Rusia di Ukraina timur.

Pertempuran kecil yang melukai 17 orang lainnya itu terjadi ketika gencatan senjata masih berlangsung sesuai dengan perjanjian damai di Minsk, Belarusia.

Juru bicara militer Ukraina, Andriy Lysenko, menkonfirmasi penangkapan dua tentara Rusia di Ukraina timur.  ”Dua prajurit Rusia berada di dalam tahanan. Penyidik kami sedang bekerja dengan (memeriksa) mereka,” kata Lysenko, seperti dilansir Reuters, Senin (18/5/2015).

Ukraina dan NATO selama ini menuduh Rusia mendukung separatis pro-Rusia di Ukraina timur. Dukungan itu dengan pengiriman pasukan dan peralatan militer. Namun, Kremlin berkali-kali membantah tuduhan itu.

Penangkapan dua tentara Rusia itu akan menjadi bukti baru bagi Ukraina soal tuduhan keterlibatan Rusia dalam konflik di Ukraina timur.

Lysenko mengatakan, tiga tentara Ukraina yang tewas di Ukraina timur dalam 24 jam terakhir, dua di antaranya akibat serangan mortir di dekat Kota Svitlodarsk, timur laut dari Donetsk.

Sementara itu, Rusia belum menanggapi klaim militer Ukraina yang telah menangkap dua tentara Kremlin di Ukraina timur. Insiden ini bisa mengancam rusaknya gencatan senjata yang disepakati semua pihak sesuai perjanjian damai di Minsk beberapa bulan lalu. (sindo/infoduniamiliter )

300 Tentara AS Telah Tiba di Ukraina

300 pasukan para dari Brigade Lintas Udara ke-173 Amerika Serikat tiba di Ukraina pekan ini untuk melatih Garda Nasional Ukraina dalam memerangi pasukan pemberontak pro-Rusia di timur negeri itu, kata Angkatan Darat AS.
Ke-300 prajurit ini tiba Selasa dan Kamis lalu di Yavoriv, Ukraina barat, untuk melatih tiga batalion pasukan Ukraina selama enam bulan.
Mereka akan melatih Garda Nasional Ukraina yang adalah tentara cadangan bentukan tahun 2014 yang menghimpun relawan dan milisi pro pemerintah.
image
“Kami akan menyelenggarakan kelas-kelas mengenai fungsi-fungsi tempur, selain melatih keberlangsungan dan meningkatkan profesionalisme serta keterampilan staf militer,” kata Mayor Jose Mendez, perwira operasional pada brigade yang berpangkalan di Italia.
Langkah AS ini kemungkinan membuat murka Rusia yang sudah menuduh AS telah mendukung demonstran yang menjatuhkan Presiden Ukraina pro-Rusia Victor Yanukovych tahun lalu sehingga membuat tegang hubungan Kiev dan Moscow.
image
Rusia Berang
Moskow memperingatkan bahwa kehadiran personel militer asing akan mendestabilisasi situasi di Ukraina. “Partisipasi para instruktur dan pakar dari negara ketiga di wilayah Ukraina, tidak membantu mengatasi konflik di sana,” kata Juru Bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov. “Sebaliknya, hal itu bisa secara serius mendestabilisasi situasi,” ujar dia.
Konflik di Ukraina telah berkecamuk selama hampir setahun dengan menewaskan sekitar 6.000 orang di Ukraina timur di Donetsk dan Lugansk. Negara-negara Barat menuduh Moskow mendukung kaum separatis namun Putin mengatakan tidak menempatkan seorang pun tentara di Ukraina. (Antara News/JG/infoduniamiliter.Com)

300 Tentara AS Latih Pasukan Ukraina


Sebanyak 300 anggota pasukan lintas udara AS tiba di Ukraina pekan ini untuk melatih pasukan Garda Nasional Ukraina yang memerangi pemberontak pro-Rusia di wilayah timur negeri itu. Demikian pernyataan Angkatan Darat AS, Kamis (16/4/2015).

Pasukan dari Brigade Pasukan Lintas Udara ke-173 tiba pada Selasa dan Rabu lalu di Yavoriv , wilayah barat Ukraina. Mereka akan berada di negeri itu selama enam bulan untuk melatih tiga batalion pasukan Ukraina.

"Kami akan menggelar pelatihan perang, termasuk latihan untuk meningkatkan profesionalisme dan kemampuan para staf militer Ukraina," kata Mayor Jose Mendez, perwira operasi Brigade Lintas Udara ke-173 yang berbasis di Italia.

Langkah AS ini nampaknya akan memicu kemarahan Rusia yang selama ini menuding AS mendukung aksi protes yang berujung penggulingan Presiden Victor Yanukovych yag pro-Rusia tahun lalu.

Sementara itu, Barat menuding Moskwa mempersenjatai para pemberontak yang menguasai sejumlah kawasan di wilayah timur Ukraina. Moskwa berulang kali membantah tuduhan Barat itu.

Pertempuran antara kelompok separatis dan pasukan pemerintah Ukraina terus terjadi meski kesepakatan gencatan senjata telah diteken kedua pihak yang bertikai pada Februari lalu.

Konflik bersenjata ini, menurut PBB, sudah menghilangkan lebih dari 6.000 nyawa, sebagian di antaranya adalah warga sipil. (Voa/infoduniamiliter.Com)

Konflik Ukraina Tewaskan 6000 Orang

Ukraina - Pada 6 April 2014, aktivis pro-Rusia menyerbu kantor pemerintah daerah Donetsk di timur Ukraina, yang menandai dimulainya pemberontakan terhadap pemerintahan Ukraina.
Milisi pro-Rusia menyatakan perang kepada pihak-pihak pro-barat yang melakukan kudeta terhadap Presiden Ukraina, Viktor Yanukovich, pada Februari, 2014.
Dalam setahun perang berkobar, 6.000 orang diperkirakan tewas.
Pemberontak pro-Rusia di timur Ukraina menganggap rezim pemerintahan yang sekarang fasis. Pasukan pemberontak kemudian mendeklarasikan berdirinya "Republik Donetsk dan Lugansk".
Pada pertengahan April, 2014, pemerintah Ukraina melancarkan serangan untuk merebut kembali Donetsk dan Lugansk. Pertempuran berdarah pertama terjadi bandara Donetsk, 26 Mei 2014.
Negara-negara barat khawatir akan upaya Rusia mencegah Kiev bergabung dengan Uni Eropa dan NATO. Mereka menuding Rusia memberikan bantuan militer kepada pemberontak. Rusia berulang kali membantah mereka terlibat dalam konflik antara pemerintah Ukraina dengan pemberontak.
Pada 17 Juli 2014, konflik ini menelan korban dari pihak luar. Sebuah pesawat Malaysia Airlines ditembak di atas timur Ukraina, menewaskan semua 298 penumpangnya. Pemberontak menuduh Ukraina menembak pesawat tersebut dan sebaliknya, Ukraina menuduh pemberontak menembak jatuh pesawat.
Pada bulan September, perjanjian gencatajn senjata disetujui namun tidak berlangsung lama. Pada bulan Februari, dengan mediasi Prancis dan Jerman, Rusia dan Ukraina akhirnya setuju melakukan gencatan senjata yang masih bertahan hingga hari ini. (Sindo/infoduniamiliter.Com)

AS Manfaatkan Ukraina Untuk Mata-matai Rusia


ALABAMA - Amerika Serikat (AS), dilaporkan memiliki rencana lain di balik keterlibatan mereka dalam memberikan bantuan terhadap Ukraina. Diam-diam AS ternyata sedang berusaha menggunakan konflik yang terjadi Ukraina timur untuk mengintip kekuatan militer yang dimiliki oleh Rusia. 
 
"Tentu saja, kami mencoba untuk mengambil keuntungan untuk mempelajari apa yang sedang (Rusia) lakukan di Crimea dan juga Ukraina timur," ucap komandan Angkatan Darat AS di Eropa, Letnan Jenderal Ben Hodges di sebuah konferensi Angkatan Darat di Huntsville, Alabama.
 
Menurut Hodges, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (2/4/2015), banyak hal yang bisa diamati dari konflik yang terjadi di Ukraina, khususnya mengenai senjata-senjata yang dipakai oleh separatis pro-Rusia. Sebab, sangat sullit bagi sebuah negara, terutama AS untuk bisa langsung melihat kekuatan sejati militer Rusia, selain di Ukraina.
 
Selain itu, AS, lanjut Hodges, juga dapat belajar langsung dari warga Ukraina untuk bisa menghadapi senjata-senjata milik Rusia.
 
"Hampir tidak ada diantara kita yang pernah ada dalam situasi yang dirasakan oleh warga Ukraina saat ini, dimana mereka berada di bawah ancaman  artileri Rusia. Oleh karena itu, kita bisa belajar banyak dari cara warga Ukraina untuk menghidari atau melawan senjata-senjata itu," tambahnya.
 
Di kesempatan yang sama, dirinya juga mengatakan, AS telah mengirimkan 20 sistem pertahanan anti-rudal kepada pemerintah Ukraina. Pengiriman sistem pertahanan ini adalah bagian dari paket bantuan militer sebesar USD 118 juga, yang diberikan AS pada Ukraina. (Sindo/infoduniamiliter.com)

Pesawat AS dan Ukraina Pantau Pasukan Militer Rusia

Pesawat Amerika Serikat (AS) dan Ukraina memantau pasukan militer Rusia langsung dari langit Moskow pada Senin (30/3/2015) dan 4 April mendatang. Pantauan itu dilakukan atas perjanjian "Open Skies".

Dalam pantauan itu, AS menggunakan pesawat Boeing OC-135B. Menurut Kepala Pusat Pengurangan Risiko Nuklir Rusia, Sergei Ryzhakov, dalam perjanjian “Open Skies”, AS dan Ukraina diizinkan memantau Rusia dari wilayah udara Rusia dan Belarusia.

Dalam perjanjian itu, pesawat pemantau dilarang dilengkapi dengan senjata, tapi disetujui untuk menggunakan teknologi observasi.

”Dalam kerangka Perjanjian Internasional Open Skies, misi perwakilan AS dan Ukraina berencana melakukan penerbangan pantauan atas wilayah suatu kelompok negara yang berpartisipasi (dalam perjanjian), yakni Republik Belarusia dan Federasi Rusia,” kata Ryzhkov kepada RIA Novosti , Senin (30/3/2015).

Menurut Departemen Luar Negeri AS, Perjanjian Open Skies memungkinkan 34 negara peserta perjanjian untuk melakukan penerbangan pantauan terhadap wilayah masing-masing negara. Tujuannya untuk mengumpulkan informasi melalui pencitraan udara terhadap pasukan militer dan kegiatan lain yang dipantau.

Perjanjian Open Skies ditandatangani pada bulan Maret 1992 di Helsinki. Perjanjian ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2002. Rusia telah meratifikasi perjanjian ini pada 26 Mei 2001.

Pantauan oleh pesawat AS dan Ukraina itu terjadi di saat Rusia sedang bersitegang dengan Ukraina, dalam konflik di Ukraina timur. AS sendiri pernah berencana memasok senjata ke Ukraina yang membuat Rusia geram. (Sindo/infoduniamiliter.com)

Aktivitas NATO Picu Ketegangan di Eropa Timur

BERLIN – Utusan Rusia untuk NATO menyatakan aktivitas militer Rusia bukanlah sebuah hal yang menjadi masalah saat ini. Namun, aktivitas militer NATO-lah yang menambah ketegangan di Eropa Timur.

Hal tersebut disampaikan utusan Rusia untuk NATO, Aleksandr Grushko, ketika wawancara dengan saluran televisi Jerman, Da Erste.

“Persoalannya bukanlah aktivitas militer Rusia, tapi peningkatan aktivitas militer NATO. Setiap hari latihan militer berlangsung. Jumlah latihan militer NATO telah melebihi 200 kali, jumlah penerbangan taktis angkatan udara NATO di Laut Baltik dan Laut Barents, serta wilayah yang berbatasan dengan Rusia mencapai 3.000 kali tahun lalu. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dari 2013,” kata Grushko, seperti dilansir Russia Today, Jumat (27/3/2015).

Grushko menambahkan, jumlah tersebut sangat besar jika dibandingkan aktivitas militer Rusia yang tidak banyak berubah sepanjang 2013–2014.

Perhatian lain dari Pemerintah Rusia adalah kemungkinan adanya pengiriman senjata dari Amerika Serikat kepada militer Ukraina. Militer Ukraina diketahui akan menerima pelatihan militer yang dipimpin AS pada April 2015. Hal itu dianggap sebagai ancaman bagi keamanan Rusia.

“Pengiriman senjata dari AS ke Ukraina di atas kegagalan gencatan senjata yang telah rapuh di Donbass telah mengancam keamanan Rusia,” demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia.

Pernyataan itu sekaligus menunjukkan kegagalan kesepakatan Minsk dan mempertanyakan rencana dari AS serta NATO di Ukraina. (Okexone/infoduniamiliter.com)

Satu Bulan Gencaan Senjata, Pertempuran Kembali Pecah di Ukraina

Juru bicara militer Ukraina, Andriy Lysenko menyatakan, pertempuran kembali berkobar di kawasan Ukraina timur. Pertempuran ini kembali pecah setelah hampir sebulan gencatan senjata berlangsung di wilayah tersebut.

Menurut Lysenko dalam rilis yang diterima Sindonews pada Kamis (26/3/2015), pertempuran ini diawali dengan tindakan separatis pro-Rusia yang menembaki pasukan Ukraina yang berada di wilayah konflik. Untungnya, lanjut Lysenko, tidak ada korban jiwa dari sisi Ukraina dalam pertempuran ini.

"Selepas tengah malam militan memicu empat provokasi bersenjata melawan pasukan Ukraina, dengan menggunakan mortir dan senjata sistem anti-pesawat. Separatis masih berupaya untuk mengambil alih seluruh wilayah di sekitar Shyrokyne hingga ke bagian timur Mariupol," ucap Lysenko.

"Tidak ada satupun anggota Angkatan Bersenjata Ukraina yang tewas dalam serangkaian serangan tersebut, hanya ada empat anggota kami yang menderita luka-luka akibat serangan itu," Lysenko menambakan.

Sementara itu, Lysenko kembali menyebut pihaknya mendapati fakta Rusia masih terus memberikan bantuan kepada pihak separatis dan pasukannya yang berada di Ukraina timur. Menurut Lysenko, hal ini dibuktikan dengan tibanya 20 kereta api yang membawa amunisi di stasiun kereta api Krasnodon, Lugansk. (Sindo/infoduniamiliter.com)

Presiden ukraina Berusaha Peroleh Bantuan Senjata dari Barat

Presiden Ukraina Petro Poroshenko, yang berusaha memperoleh bantuan militer Barat untuk mengakhiri pemberontakan pro-Rusia di tanah airnya., telah tiba di Jerman untuk berbicara dengan Kanselir Angela Merkel dan para anggota terkemuka parlemen Jerman.

Keterangan lebih jauh mengenai pembicaraan mereka belum diungkapkan. Tetapi pertemuan hari Senin itu dilakukan setelah seruan menteri luar negeri Jerman pekan lalu agar Kyiv jangan diberi senjata untuk melawan pemberontakan yang didukung Moskow selama hampir setahun ini.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter-Steinmeier, berbicara hari Kamis di Washington, mengatakan pemberian senjata demikian kepada Ukraina dapat mengakibatkan konflik itu tidak terkendali.

Ia dan pejabat lain Eropa juga telah memperingatkan Eropa bahwa baik Jerman maupun Perancis tidak akan mendukung setiap tindakan Amerika mengirim senjata.

Para pemimpin Uni Eropa yang akan mengadakan pertemuan pekan ini di Brussels diperkirakan akan meninjau kembali sanksi ekonomi yang dikenakan terhadap Moskow atas bantuannya bagi pemberontakan itu, yang telah menelan lebih dari 6000 korban jiwa. (via/infoduniamiliter.com)

Ukraina Klaim 197 Tentaranya Tewas dibunuh Pemberontak pro Rusia

Kiev - Sebanyak 197 tentara Ukraina  pro barat tewas dalam pertemuran dengan pihak pemberontak pro-Rusia dalam satu bulan terakhir. Jumlah pasukan yang tewas merupakan yang terbanyak dalam 10 bulan terakhir.

Seperti diberitakan AFP, Sabtu (21/2/2015), pemerintah Ukraina mengkonfirmasi jumlah yang tewas tersebut. Penasihat Presiden Ukraina Yuri Biryukove 

mengatakan 13 tentara tewas dalam baku tembak pada Selasa (17/2) dan Rabu (18/2) lalu di wilayah Debaltseve.

Yuri menyebut jumlah keseluruhan tentara yang tewas berjumlah 197 di Debaltseve. Pernyataan ini diposting lewat akun facebook miliknya. Tidak hanya itu, Yuri juga menyebutkan sekitar 110 tetara ditangkap oleh pihak pemberontak, dan 81 lainnya hilang.

"179 Orang tewas dalam sebulan. Bahkan bisa lebih dari jumlah tersebut," kata Yuri.

Pihak pemberontak mengatakan pihaknya menemukan sekitar 57 mayat tentara Ukraina saat mengambil alih Debaltseve, termasuk senjata yag ditinggalkan. dan 28 buah tank. Mereka juga menahan ratusan tentara Ukraina.

Sekitar 2.500 tentara telah meninggal kota tersebut. Wartawan yang masuk ke dalam kota Debaltseve setelah pertempuran menemukan gedung-gedung yang rusak, kendaraan tempur yang terbakar.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan panarikan pasukan dari Debaltseve dilakukan secara tertib dan terorganisir. Namun kekalahan itu mendapatkan kritik keras di Ukraina terutama kepada Poroshenko sebagai komandan militer tertinggi.com (detik/infoduniamiliter.com)


Top