Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

AS Tuduh Rusia Tempatkan Persenjataan dekat Ukraina

Pemerintah Amerika Serikat baru saja mempublikasikan citra satelit komersial yang merekam alat utama sistem persenjataan berat Rusia yang dikerahkan di dekat sebuah desa strategis di sebelah timur Ukraina.

"Kami meyakini ini adalah sistem persenjataan Rusia, bukan milik separatis," ujar Duta Besar Amerika Serikat untuk Ukraina Geoff Pyatt yang menulis dalam akun Twitternya, seperti dilansir abcnews.go.com, Jumat (15/2/2015).

Pyat mengungkapkan, persenjataan tersebut di antaranya artileri, roket dan misil darat. Ia menuduh unit militer Rusia berada di sepanjang perbatasan guna memasok banyak persenjataan untuk pejuang separatis pro-Rusia.

Tuduhan ini datang menjelang gencatan senjata Kamis tengah malam yang ditempuh dua belah yang sepakat mengakhiri konflik tak meluas, dan sudah terjadi hampir setahun. Setidaknya lebih dari lima ribu jiwa melayang dan satu juta jiwa mengungsi karena peperangan ini.

Gambar yang diambil oleh perusahaan citra satelit komersial DigitalGlobe dan dicuitkan oleh Pyatt merupakan suatu daerah di dekat desa Debaltseve.

Debaltseve menjadi ajang pertempuran sengit antara kedua belah pihak dalam beberapa hari terakhir. Mereka saling menggempur karena ingin menguasai infrastruktur kereta api di daerah tersebut.

Sementara itu, Rusia membantah keras telah mempersenjatai para pejuang separatis, meski persenjataan mereka diketahui dan terekam citra satelit. Ditambah bukti keterlibatan tentara Rusia yang tewas dalam pertempuran di timur Ukraina.

"Kali ini pasukan pemberontak memiliki kekuatan tempur lebih besar dengan kendaraan tank lapis baja, artileri dan sistem roket daripada yang dimiliki NATO dan negara-negara Eropa," klaim Pyat lewat Twitternya.(tribun/infoduniamiliter.com)

IS Libya Penggal 21 Kristen Koptik

Mujahidin Islamic state (IS/ISIS) telah merilis sebuah video baru yang diduga menunjukkan pemenggalan 21 orang Kristen Koptik Mesir yang diculik di Libya menyusul pengumuman awal dari tindakan mereka dalam edisi majalah Dabiq milik IS.Video berdurasi lima menit, dirilis pada Ahad (21/2/2015), menunjukkan mujahidin IS berpakaian serba hitam membawa para sandera yang diborgol mengenakan jumpsuits oranye mirip dengan para sandera IS yang dieksekusi sebelumnya.

Mujahidin IS kemudian meletakkan para korban tertelungkup di sepanjang pantai di ibukota Libya Tripoli dan kemudian menggorok leher mereka menggunakan belati. Setelah pemenggalan kepala, mereka menempatkan kepala diatas tubuh.IS mengatakan dalam rekaman itu bahwaeksekusi mereka adalah balas dendam untuk "para Muslimah dianiaya oleh tentara salib Koptik di Mesir.""Keselamatan bagi Anda Tentara salib adalah sesuatu yang hanya bisa Anda berharap," salah satu mujahid bertopeng yang mengenakan seragam kamuflase militer - satu-satunya anggota IS yang tidak berpakaian hitam - mengatakan dalam bahasa Inggris yang fasih sambil mengacungkan pisau sebelum dan sesudah eksekusi.IS sebelumnya menerbitkan foto-foto dari 21 pekerja Mesir, mengatakan bahwa foto-foto itu diambil saat sebelum pemenggalan kepala mereka.Para pekerja, yang foto-foto itu dipublikasikan dalam edisi online terbaru Dabiq, dilaporkan diculik di kota pesisir Libya Sirte dalam dua serangan pada bulan Desember tahun lalu dan Januari.

Dabiq mengatakan penculikan itu untuk membalas nasib perempuan Muslim yang "disiksa dan dibunuh oleh gereja Koptik Mesir" dan bahwa ekspansi mereka ke Libya memungkinkan "untuk dengan mudah menangkap tentara salib Koptik."Setelah terbitnya video tersebut, kementerian luar negeri Mesir memperingatkan Mesir tidak melakukan perjalanan ke Libya, menasihati mereka yang sudah tinggal di negara itu untuk menghindari daerah-daerah ketegangan tinggi. Sejumlah besar warga Mesir, banyak dari mereka pekerja konstruksi, saat ini bekerja di Libya. IS sejauh ini telah merilis beberapa video yang sama dari Irak menunjukkan eksekusi tawanan dari negara-negara yang berbeda, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. (st/ptv/infoduniamiliter.com)

Pemberontakan PETA, Perlawanan Terhadap Jepang

Apabila kita bertanya kepada banyak orang tentang apa yang mereka ingat jika menyebut tanggal 14 Februari, tentulah mayoritas dari mereka akan berkata 'Hari Valentine', apalagi kalau yang ditanya adalah anak-anak muda zaman sekarang yang hobinya tidak jauh dari 'percintaan' dan 'kegalauan'. Padahal, tanggal 14 Februari dicatat dalam sejarah nasional Indonesia sebagai peringatan peristiwaPemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Kota Blitar pada tahun 1945 - hanya setengah tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia - yang dipimpin olehShodancho Supriyadi. Tulisanku kali ini akan sedikit menceritakan ulang peristiwa terjadinya Pemberontakan PETA di Blitar tanggal 14 Februari 1945. Bahan tulisan aku ambil dari berbagai sumber referensi di internet yang insya Allah terpercaya. PETA (singkatan dari "Pembela Tanah Air") adalah bentukan junta militer pendudukan Kekaisaran Jepang di Indonesia yang didirikan pada bulan Oktober 1943. Jepang merekrut para pemuda Indonesia untuk dijadikan sebagai tentara teritorial guna mempertahankan Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera jika pasukan Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Australia, Belanda, dkk.) tiba. Tentara-tentara PETA mendapatkan pelatihan militer dari tentara Kekaisaran Jepang, tetapi berbeda dengan tentara-tentara HEIHO yang ikut bertempur bersama tentara-tentara Jepang di berbagai medan tempur Asia seperti Myanmar, Thailand, dan Filipina. Tentara PETA belum pernah mengalami pengalaman tempur. Shodancho Supriyadi, Shodancho Muradi, dan rekan-rekannya adalah lulusan angkatan pertama pendidikan komandan peleton PETA di Bogor. Mereka lantas dikembalikan ke daerah asalnya untuk bertugas di bawah Daidan (Batalyon) Blitar. Shodancho Supriyadi dan Bendera PETA Nurani para komandan muda itu tersentuh dan tersentak melihat penderitaan rakyat Indonesia yang diperlakukan bagaikan budak oleh tentara Jepang. Kondisi Romusha, yakni orang-orang yang dikerahkan untuk bekerja paksa membangun benteng-benteng di pantai sangat menyedihkan. Banyak yang tewas akibat kelaparan dan terkena berbagai macam penyakit tanpa diobati sama sekali. Para prajurit PETA juga geram melihat kelakuan tentara-tentara Jepang yang suka melecehkan harkat dan martabat wanita-wanita Indonesia. Para wanita ini pada awalnya dijanjikan akan mendapatkan pendidikan di Jakarta, namun ternyata malah menjadi pemuas nafsu seksual para tentara Jepang. Selain itu, ada aturan yang mewajibkan tentara PETA memberi hormat kepada serdadu Jepang, walaupun pangkat prajurit Jepang itu lebih rendah daripada anggota PETA. Harga diri para perwira PETA pun terusik dan terhina. Dalam buku "Tentara Gemblengan Jepang" yang ditulis oleh Joyce L. Lebradan diterjemahkan oleh Pustaka Sinar Harapan pada tahun 1988, dibeberkan persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Shodancho Supriyadi dan para shodancho lain. Pertemuan-pertemuan rahasia sudah digelar sejak bulan September 1944. Shodancho Supriyadi merencanakan aksi itu bukan hanya sebagai pemberontakan, tetapi juga sebuah revolusi menuju kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pemberontak PETA tersebut menghubungi komandan-komandan batalyon di berbagai wilayah lain untuk bersama-sama mengangkat senjata dan menggalang kekuatan rakyat Tanggal 14 Februari 1945 kemudian dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan pemberontakan, karena saat itu akan ada pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar, sehingga diharapkan anggota-anggota PETA yang lain akan ikut bergabung dalam aksi perlawanan. Tujuannya adalah untuk menguasai Kota Blitar dan mengobarkan semangat pemberontakan di daerah-daerah lain. Walaupun rencana pemberontakan telah dipersiapkan secara baik, akan tetapi terjadi hal yang tidak diduga. Tiba-tiba pimpinan tentara Kekaisaran Jepang memutuskan membatalkan pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar. Selain itu, Kempetai (polisi rahasia Jepang) ternyata sudah mencium rencana aksi Shodancho Supriyadi dan kawan-kawan. Supriyadi pun cemas dan khawatir mereka ditangkap sebelum aksi dimulai. Shodancho Supriyadi beserta para komandan dan anggota PETA di Blitar juga dihadapkan pada posisi sulit. Apabila terus melanjutkan perlawanan, mereka akan kalah karena jumlah mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan jumlah tentara Kekaisaran Jepang. Namun, jika perlawanan dibatalkan pun tentara Kekaisaran Jepang sudah mengetahui rencana aksi mereka, sehingga kemungkinan besar para pemberontak akan ditangkap, lalu dijatuhi hukuman yang sangat berat, yakni hukuman mati. Sebenarnya, banyak yang menilai rencana aksi pemberontakan PETA belum siap, salah satunya Sukarno. Dalam perbincangan yang berlangsung cukup seru, Bung Karno sempat meminta Shodancho Supriyadi dan para perwira PETA yang lain siap memikul tanggung jawab maupun akibat apabila aksi pemberontakan PETA ternyata gagal total. Alkisah, ketika Sukarno pulang ke Blitar - kota lokasi rumahnya dan tempat tinggal orangtuanya -, datanglah beberapa perwira PETA menemuinya. "Kami sudah merencakan pemberontakan, tetapi kami ingin tahu pendapat Bung Karno sendiri," ujar Shodancho Supriyadi, Pemimpin Perwira PETA yang menemui Bung Karno. Sukarno begitu lama terdiam, sampai akhirnya Shodancho Supriyadi menegaskan, "Kita akan berhasil!" Sukarno akhirnya mengeluarkan pendapatnya. "Pertimbangkanlah masak-masak. Pertimbangkan untung dan ruginya," ujar Bung Karno. Masih dengan nada suara tertekan karena hati kecilnya tidak setuju langkah Supriyadi dan kawan-kawan, Sukarno melanjutkan, "Saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan pemberontakan tidak hanya dari satu segi." Shodancho Supriyadi pun menimpali pendapat Bung Karno dengan penuh semangat, "Saya menjamin. Kita akan berhasil!". "Saya berpendapat, saudara-saudara terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu pada waktu sekarang," tegas Bung Karno yang kembali mengutarakan pendapatnya. Usai bertutur kata, Bung Karno kemudian memandangi wajah-wajah para pemuda yang penuh semangat dan berani menyabung nyawa demi Indonesia merdeka. Bung Karno sadar betul bahwa tidak akan ada yang bisa menghalang-halangi tujuan para pemuda tersebut sedikit pun. Oleh karena itu, Bung Karno lantas menyatakan, "Kalau sekiranya saudara-saudara gagal dalam usaha ini, hendaknya sudah siap memikul akibatnya. Jepang akan menembak mati saudara-saudara semua." "Apakah Bung Karno tidak bisa membela kami?", tanya seorang pemuda. "Tidak. Saudara anggota tentara, bukan orang preman. Dalam hukum militer, hukumannya otomatis," jawab Bung Karno seraya menambahkan bahwa kalau sekiranya mereka tetap bertekad bulat hendak memberontak, Bung Karno tidak lagi melarang. Jika perlu, Bung Karno akan ikut membuat rancangan pemberontakan. Akan tetapi, Bung Karno juga harus tetap menjaga hubungan dengan pemerintahan Jepang di Jakarta, yang sedang intens digarap Sukarno dan para tokoh pergerakan lain seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dalam rangka menuju kemerdekaan Indonesia pada masa transisi tahun 1945. Bung Karno dan Supriyadi Tanggal 13 Februari 1945 malam hari, Shodancho Supriyadi memutuskan bahwa pemberontakan tetap harus dilaksanakan. Siap atau tidak siap, inilah saatnya tentara PETA membalas perlakuan tentara Jepang. Shodancho Supriyadi juga berharap bahwa pengorbanan darah dan nyawa para pemberontak PETA akan mengobarkan semangat perjuangan segenap bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, meskipun semua orang sudah tahu mereka akan kalah menghadapi tentara Kekaisaran Jepang. Tidak semua anggota Daidan Blitar ikut memberontak. Shodancho Supriyadi meminta para pemberontak tidak menyakiti sesama anggota PETA walaupun tak mau memberontak. Akan tetapi, semua orang Jepang wajib dibunuh. Tepat tanggal 14 Februari 1945 dini hari pukul 03.00 WIB, pasukan PETA pimpinan Shodancho Supriyadi menembakkan mortir ke Hotel Sakura yang menjadi kediaman para perwira militer Kekaisaran Jepang. Markas Kempetai juga ditembaki senapan mesin. Akan tetapi ternyata kedua bangunan tersebut sudah dikosongkan, karena pihak Jepang telah mencium rencana aksi pemberontakan PETA. Dalam aksi yang lain, salah seorang bhudancho (bintara) PETA merobek poster bertuliskan "Indonesia Akan Merdeka" dan menggantinya dengan tulisan "Indonesia Sudah Merdeka!". Ilustrasi Aksi Shodancho Supriyadi Memimpin Pemberontakan PETA di Museum PETA Kota Bogor Aksi Shodancho Supriyadi Memimpin Pemberontakan PETA dalam Diorama Museum PETA Kota Bogor Pemberontakan PETA sendiri akhirnya tidak berjalan sesuai rencana. Shodancho Supriyadi gagal menggerakkan satuan lain untuk memberontak dan rencana pemberontakan ini pun terbukti telah diketahui oleh pihak Jepang. Dalam waktu singkat, Jepang mengirimkan pasukan militer untuk memadamkan pemberontakan PETA. Para pemberontak pun terdesak. Difasilitasi oleh Dinas Propaganda Jepang, Kolonel Katagiri menemui Shodancho Muradi, salah satu pentolan pemberontak, dan meminta seluruh pasukan pemberontak kembali ke markas batalyon. Shodancho Muradi mengajukan syarat kepada Kolonel Katagiri, yakni: 1. Senjata para pemberontak tidak boleh dilucuti Jepang; dan 2. Para pemberontak tidak boleh diperiksa atau diadili Jepang. Kolonel Katagiri pun setuju. Dia memberikan pedangnya sebagai jaminan. Ini adalah isyarat janji seorang samurai yang harus ditepati. Akan tetapi, janji Katagiri ternyata tidak bisa diterima oleh Komandan Tentara Jepang XVI. Mereka malah mengirim Kempetai untuk mengusut pemberontakan PETA. Jepang pun melanggar janjinya. Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA dari Blitar akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara untuk kemudian diadili di Jakarta. Sebanyak enam orang divonis hukuman mati di Ancol pada tanggal 16 Mei 1945, enam orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan. Persidangan Mahkamah Militer Jepang Terhadap Tentara Anggota Pemberontakan PETA Tahun 1945 Akan tetapi, nasib Shodancho Supriyadi tidak diketahui. Shodancho Supriyadi menghilang secara misterius tanpa ada seorang pun yang mengetahui kabarnya. Sebagian orang meyakini Shodancho Supriyadi tewas di tangan tentara Jepang dalam pertempuran. Sebagian orang juga ada yang meyakini Shodancho Supriyadi tewas diterkam binatang buas di hutan-hutan sekitar Kota Blitar. Sebagian orang pun ada yang meyakini Shodancho Supriyadi melakukan ritual dengan cara menceburkan dirinya ke dalam kawah Gunung Kelud dekat Kota Blitar. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa Shodancho Supriyadi sesungguhnya masih hidup hingga saat ini, hanya saja keberadaannya tidak diketahui atau sering hidup di alam ghaib. Namun satu hal yang pasti, hilangnya Shodancho Supriyadi adalah suatu misteri sejarah nasional Indonesia yang belum jelas hingga saat ini. Setelah Indonesia merdeka, Shodancho Supriyadi diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia yang pertama. Namun, Supriyadi ternyata tidak pernah muncul lagi untuk selama-lamanya, hingga saat pelantikan para menteri. Kemudian, saat para menteri dilantik oleh Presiden Soekarno, tertulis "Menteri Pertahanan belum diangkat". Akhirnya, karena Supriyadi benar-benar tidak muncul lagi, Presiden Soekarno pun mengangkat dan melantik Imam Muhammad Suliyoadikusumo sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia. (INDRASR/INFODUNIAMILITER.COM)

Musallam Akui Jadi Agen Israel Karena Diiming-imingi Uang

Muhammad Sa’id Isma’il Musallam (19) seorang warga Israel keturunan Arab ditangkap Islamic State (IS) karena menjadi penyusup alias agen mata-mata yang dikirimkan oleh Mossad, Israel. Majalah DABIQ Edisi 7 mengetengahkan wawancara eksklusif antara Muhammad Sa’id Isma’il Musallam yang akhirnya menyesali perbuatannya tersebut.

“Yang ingin memata-matai Daulah Islam, jangan berpikir kalian sangat pintar dan bahwa kalian dapat menipu Daulah Islam. Kalian tidak akan berhasil sama sekali. Dan akhirnya, mereka akan menangkapmu dan menegakkan hukuman (hadd) atasmu. Menjauhlah dari jalan ini. Menjauhlah dari menolong Yahudi dan orang-orang murtad. Ikutilah jalan yang benar."

Demikian pesan Sa’id kepada semua mata-mata yang kemungkinan masih bercokol di wilayah IS yang dikirim oleh negara-negara koalisi AS. Sa’id juga menyalahkan ayah dan saudara laki-lakinya yang telah menjerumuskan-nya ke dalam aktivitas yang sangat dimurkai dalam Islam.

“Aku katakan kepada ayahku dan saudara laki-lakiku yang membuatku terlibat dalam masalah ini, kalian yang membawaku ke dalamnya, kalian menggodaku dengan uang dan kehidupan dunia, dan meletakkanku dalam posisiku sekarang. Bertaubatlah kepada Allah (‘azza wa jall).  Bertaubatlah kepada Allah (‘azza wa jall). kalian yang membuatku seperti ini.”

Namun ayahnya membantah dengan mengatakan “Dia pergi karena keinginannya, pihak keluarga tidak mengetahui,”ujar ayah Sa’id seperti dilansir Washington Times, Sabtu (14/2/2015).

IS mengungkapkan, tertangkapnya Sa’id, agen Mossad oleh iS dan dipublikasikannya wawancara Sa’id di Majalah DABIQ Edisi 7 jelas merupakan peringatan untuk setiap agen dan mata-mata yang mencoba menyusup ke IS bahwa mereka akan mengalami nasib yang sama dengan Sa’id. (Almustaqbal/INFODUNIAMILITER.COM)

Petinggi Militer China, Tersangkut Kasus Korupsi

BEIJING – Pemerintah China menangkap seorang pejabat militer yang diduga terlibat kasus korupsi di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Mayor Jenderal Liu Hongjie yang menduduki posisi ketua urusan logistik dan perlengkapan militer ditangkap karena diduga menyalahgunakan wewenangnya.

Namun tidak diketahui berapa jumlah uang negara yang dirugikan akibat skandal ini, mengingat akses informasi yang sulit didapat dari China.

Seperti dilansir Channel News Asia, Sabtu (14/2/2015), Pemerintah China masih terus menginvestigasi kasus ini karena masih ada kemungkinan keterlibatan pejabat lain di lingkungan militer China.

Selain itu tidak menutup kemungkinan jika kasus ini akan menyeret purnawirawan militer China, mengingat kasus ini sudah berlangsung lama di tubuh militer.

Presiden China Xi Jinping telah bertekad untuk memberantas korupsi di negerinya. Ia pun tidak segan-segan menghukum seluruh pejabat yang terlibat skandal korupsi.

(ful/okezone/infoduniamiliter.com)

IS Tangkap Intel-nya, Israel Siaga

Negara Islam / Islamic State mengklaim bahwa mereka menyandera seorang mata-mata Israel keturunan Arab, Muhammad Musallam, 19 tahun, yang diduga bertugas untuk badan intelijen Israel, Mossad, Kamis (12/2).

Klaim tersebut dikemukakan IS dalam majalah Dabiq, majalah berbahasa Inggris yang dirilis oleh IS. Dalam sebuah wawancara di majalah tersebut, IS menyatakan bahwa Musallam merupakan intel Mossad dan pura-pura bergabung bersama IS di Suriah untuk memata-matai persenjataan, perekrutan anggota dan markas militer mereka. 

Namun, penyamaran Musallam rupanya membangkitkan kecurigaan komandan IS. Penyamarannya terbongkar ketika Musallam menelepon ayahnya yang tinggal di Yerusalem Timur.

Hal itu diakui sendiri olehnya "Saya mengatakan kepada semua orang yang ingin memata-matai IS, jangan pikir kalian begitu pintar dan dapat menipu ISIS. Kalian tidak akan berhasil sama sekali," kata Musallam dalam sebuah artikel di Dabiq, dikutip dari Reuters, Kamis (12/2).

"Menjauhlah dari rencana tersebut. Jangan bantu orang-orang Yahudi dan Murtaddin (orang murtad). Ikutilah jalan yang benar," kata Musallam melanjutkan.

Sementara, klaim tersebut dibantah oleh ayah Musallam, Said, dengan menyatakan bahwa anaknya bukan seorang mata-mata. Said menyatakan, Musallam hilang setelah berwisata ke Turki.

Menurut keluarganya, Musallam bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran Israel. Teman Musallam yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonimitas menyatakan bahwa menulis beberapa pesan bernada pro IS di media sosial.  

Sementara, pejabat keamanan Israel menyatakan bahwa Musallam mengunjungi Turki pada 24 Oktober 2014 dalam rangka bergabung bersama IS di Suriah .

"Dia pergi ke sana atas inisiatif sendiri, tanpa sepengetahuan keluarganya," kata pejabat yang tak ingin disebutkan namanya tersebut, namun pura-pura membantah bahwa Musallam bekerja sebagai intel Israel. 

Israel tingkatkan keamanan

Khawatir bahwa warga keturunan Arab, yang populasinya mencapai 20 persen di Israel, akan bergabung dengan IS di Irak dan Suriah, Israel telah meningkatkan pengamanan dan pemantauan terhadap terduga IS di negara tersebut.

Israel juga menahan Ahmed Shurbaji, seorang warga Arab yang sempat bergabung dengan IS di Suriah, dan kemudian kembali ke Israel. 

Pengadilan Israel menjatuhkan hukuman kepada Shurbaji yang yang relatif ringan, yaitu 22 bulan, karena menyepakati syarat membantu Israel memberikan informasi seputar IS. 

Sebuah sumber di Shin Bet, badan keamanan internal Israel, menyatakan orang-orang Arab Israel yang kembali dari Suriah secara rutin seringkali diinterogasi oleh badan intel Israel terkait kelompok militan. 

Shurbaji menyatakan bahwa interogasi tersebut ditangani oleh Ayoob Kara, politisi Israel dan mantan pejabat militer yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dihubungi oleh Reuters, Kara menyatakan dia tidak percaya bahwa Musallam dalah seorang mata-mata Mossad. (CNN/infoduniamiliter.com)

IS Taklukkan Kota Albagdadi, Siap Hantam Pangkalan Militer AS

Negara Islam /Islamic State atau dulu disebut ISIS telah menguasai kota al-Baghdadi yang terletak du sebelah barat di dekat pangkalan militer AS, demikian keterangan resmi pemerintah Amerika Serikat.

Juru bicara Pentagon mengatakan, hal ini merupakan pertama kali IS berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dalam beberapa bulan terakhir.

Al-Baghdadi, yang berjarak sekitar 8 km dari pangkatan militer AS, telah dikepung selama berbulan-bulan oleh IS yang menguasai sebagian besar wilayah utara dan barat Irak.

Mereka juga menyerang pangkalan udara militer di Ain al-Asad, sekitar lima kilometer dari arah barat daya Al-Baghdadi, Jumat (13/02), tetapi tidak berhasil menguasainya, kata juru bicara Pentagon, Laksamana John Kirby.

John Kirby mengatakan, IS melalui pasukan bom martir mencoba menyerang pangkalan tersebut, kata Kirby.

Ain al-Asad merupakan tempat pelatihan pasukan Irak oleh sekitar 320 prajurit marinir AS.

Sebelum dikuasai IS, al-Baghdadi adalah salah satu dari beberapa kota di provinsi Anbar barat yang dikuasai tentara Irak.

AS memimpin langsung operasi militer melalui serangan udara terhadap kelompok IS, yang merebut sebagian besar Irak dan Suriah tahun lalu. Nampaknya AS tak bisa lagi bersifat pengecut dengan hanya serangan udara. Ekspansi IS yang terus melebar dan semakin kuat memaksa AS dan barat untuk mengambil opsi serangan darat. Akankah pertempuran jantan dimulai? (Bbc/infoduniamiliter.com)

⬆
Top