Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

IS / ISIS Wilayah Palestina Bagikan Makanan di Gaza

Pendukung Daulah Khilafah Islamiyyah / Islamic State di Gaza membagikan bantuan makanan pada warga miskin dan membutuhkan serta menyebarkan ratusan copy buku Jihad melawan Nusayris karya Abu Al Munther Shanqiti. Berikut foto-fotonya:

AS Mengaku Salah Strategi Melawan IS / ISIS

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Jenderal Martin Dempsey, meminta negara-negara yang tergabung dalam koalisi internasional melawan mujahidin untuk mengurangi intensitas serangan udara mereka di Irak dan Suriah.
Permintaan ini dilontarkan Jenderal Martin Dempsey dalam kunjungan ke kapal induk Perancis Charles de Gaulle pada hari Sabtu (07/03) kemarin.
Dalam kunjungan tersebut, Jenderal Martin Dempsey mengatakan, “Kita berbuat salah dengan terus mengintensifkan serangan udara koalisi internasional terhadap mujahidin Irak dan Suriah.”
Jenderal Martin Dempsey menambahkan, “Pembuangan jumlah besar bom di Irak bukanlah suatu solusi, kita harus sangat berhati-hati dalam penggunaan kekuatan udara dalam menghadapi mereka.”
Menurutnya koalisi internasional membutuhkan “kesabaran strategis” dalam konfrontasi dengan organisasi mujahidin Irak dan Suriah, “Peningkatan frekuensi serangan akan meningkatkan risiko terhadap penduduk sipil yang dapat menguntungkan para mujahidin,” ujar Jenderal Martin Dempsey.
Orang no 1 di Angkatan Bersenjata Amerika Serikat ini menyerukan kehati-hatian dan mengambil sejumlah waktu untuk mengumpulkan informasi yang akurat mengenai situs yang menjadi target pemboman.
Perlu diketahui bahwa pemerintah Paris mengirimkan kapal induk Charles de Gaulle ke wilayah perairan Teluk dalam tugasnya selama 8 pekan membantu kapal induk AS memerangi mujahidin Irak dan Suriah. (Skynewsarabia/Ram)

Tony Abott Muak Diceramahi PBB

Dalam laporan yang disusun pelapor khusus PBB, Juan Mendez, Australia dituduh melanggar hak-hak para pencari suaka, termasuk di antaranya anak-anak, untuk terbebas dari penyiksaan, perlakuan kejam, tak manusiawi dan perlakuan lain yang merendahkan mereka.
Laporan itu menyatakan Australia telah melanggar beberapa konvensi internasional tentang penyiksaan.
Dalam laporan yang akan diserahkan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB, pelapor khusus PBB tentang penyiksaan mengkritik bahwa Australia telah gagal untuk menyediakan pusat penahanan yang layak, penghentian penahanan terhadap anak-anak, serta menghentikan kekerasan dan ketegangan di pusat penahanan di Manu.
Sementara itu Abbott menyatakan, dengan menyetop perahu yang mengangkut pencari suaka, mereka justru menyelamatkan para pencari suaka itu dari risiko tewas di tengah laut.
Pemerintahan Abbott menjadikan penghentian terhadap gelombang pencari suaka yang datang ke Australia sebagai kebijakan unggulannya.
Ia dikenal berhasil memaksa perahu pengangkut suaka untuk berputar balik, atau menghentikan mereka dan menahan para pencari suaka dan mendaratkannya di pusat penahanan di Pulau Manu, Papua Nugini, dan pulau kecil di Nauru.
Namun pusat-pusat penahanan ini mendapatkan kritik dari para pengamat hak asasi manusia di sana, karena kondisinya yang tidak layak. (Cnn/infoduniamiliter.com)

Kerabat Terpidana Mati "Bali Nine" Kunjungi Nusakambangan

Para kerabat dua terpidana hukuman mati asal Australia hari Senin (9/3) berkunjung ke Nusakambangan tempat keduanya akan dieksekusi segera oleh regu tembak.
Andrew Chan, 31, dan Myuran Sukumaran, 33, diterbangkan dari Bali ke Nusakambangan Rabu pekan lalu. Mereka termasuk dari sembilan warga asing dan seorang warga negara Indonesia yang menurut pemerintah akan dieksekusi segera.
"Kami hanya ingin segera melihatnya," ujar Michael Chan, kakak Andrew, pada wartawan sebelum keluarga mereka naik feri dari Cilacap ke Nusakambangan.
"Kalau sudah sampai di sana, kami akan memeluknya," ujarnya.
Pemerintah Indonesia masih menunggu para terpidana mati menggunakan semua opsi hukum mereka sebelum menetapkan tanggal eksekusi. Keluarga hanya dapat mengunjungi pulau penjara itu pada Senin dan Rabu.
Chan dan Sukumaran akan membawa permohonan untuk pengampunan ke pengadilan administratif di Jakarta, Kamis.
Pengacara mereka, Peter Morrissey, mengatakan masih ada harapan untuk keduanya.
"Hal yang paling menjanjikan untuk kita adalah mereka masih hidup," ujar Morrisey pada radio Australian Broadcasting Corp., Senin.
"Melihat cara para pejabat berbicara, mereka seharusnya telah meninggal berminggu-minggu lalu," tambahnya.
Chan dan Sukumaran adalah pemimpin kelompok sembilan warga Australia yang ditahan pada April 2005 saat mencoba menyelundupkan lebih dari 8 kilogram heroin dari Bali ke Sydney.
Selain dua warga Australia tersebut, seorang warga Nigeria kelahiran Spanyol juga dipindahkan ke Nusakambangan. Tiga warga Nigeria lainnya, seorang warga Filipina, dan empat pria dari Brazil, Perancis, Ghana dan Indonesia juga dijadwalkan akan dieksekusi.
Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengatakan Minggu bahwa ia masih menunggu Presiden Joko Widodo untuk menerima permintaan terbarunya untuk berbincang di telepon. Abbott telah membuat permohonan secara pribadi pada Presiden Jokowi atas nama Australia dua minggu lalu. (Voa/infoduniamiliter.com)

Iran Klaim Bangkitkan Imperium Persia dengan Baghdad Sebagai Ibukota

Penasehat Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa saat ini negaranya telah berubah menjadi sebuah imperium besar dengan ibukotanya Baghdad, yang menjadi pusat kebudayaan dan perdaban seperti zaman Kerajaan Persia di masa lalu.
Pernyataan ini dilontarkan pensehat Ali Yunusi dalam acara forum “Identitas Iran” yang diselenggarakan di ibukota Teheran pada hari Minggu (08/03) kemarin.
Dalam acara tersebut, Ali Yunusi, mengatakan, “Secara geografis Irak dan Iran terleta pada tempat yang sama dan tidak dapat dipisahkan, sehingga kita harus berjuang bersama ataupun bersatu,” merujuk pada kehadiran militer Iran, seperti dilansir kantor berita ISNA.
Ali Yunusi menambahkan “Seluruh wilayah timur Tengah adalah Iran. Dan Iran akan melindungi dan mempertahankan semua bangsa di wilayah ini, karena kita menganggap mereka adalah bagian dari Iran,”
Penasehat presiden Iran ini menyebut bahwa Turki membenci dukungan milisi Syiah Iran dalam memerangi mujahidin Irak dan Suriah, dan menyebutnya “Mereka adalah pesaing kami dalam sejarah Romawi Timur.”
Jika memang benar, maka sejarah memang terus berulang. Jika iran dan irak adalah persia, maka AS dan sekutunya adalah Romawi barat, dan Rusia dan sekutunya adalah Romawi timur. Sementara IS dan pendukungnya adalah blok Khilafah. Sejarah memang terus berulang... (alarabiya/infoduniamiliter.com)

AS Salah Jatuhkan Bom, Malah Terkena Milisi Syiah

Jet tempur milik Amerika Serikat  salah mengenai sasaran dengan membombardir milisi Syiah di dekat kota Tikrit, dalam persiapannya menggempur basis mujahidin Irak di kota Tikrit pada hari Minggu (08/03) kemarin.
Dalam keterangan resmi militer AS menanggapi salah sasaran tersebut menjelaskan “Pilot pesawat tidak dapat membedakan antara kerumunan milisi Syiah dengan mujahidin Irak yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempat tersebut.”
Pasukan AS meminta maaf atas pemboman tersebut, dan menyatakan bahwa kerjasama dengan militer Irak untuk menghentikan mujahidin Irak akan terus berlanjut.
Dalam rekaman video berdurasi sekitar 21 detik tersebut, terdengar milisi Syiah melalui jaringan radio meminta tentara pemerintah untuk menghentikan pemboman kepada milisi Syiah milik pemerintah Irak.
Pendukung IS yakin bahwa Allah-lah yang telah menipu mata pilot  penjajah tersebut, sehingga salah dalam menjatuhkan bom.(Rassd/Ram)
Berikut cuplikan video tersebut:

Wanita Yang Bergabung dengan Kurdi, Tewas Mengenaskan

Seorang wanita muda asal Jerman dikabarkan tewas saat berjuang bersama pasukan Kurdi melawan Islamic State. Informasi ini dirilis kelompok pemantau pada Minggu (8/3/2015).
Dilansir dari AFP, Kepala Pengamat Suriah untuk Hak Asasi Manusia, Rami Abdel Rahman, mengatakan bahwa wanita berusia 20-an tahun itu tewas dalam beberapa jam terakhir.
Wanita Jerman yang belum diketahui namanya itu diduga tewas dalam pertempuran yang terjadi sejak Sabtu di kota Tal Tamr, di provinsi Hasakeh.
Dengan demikian warga negara Jerman itu menjadi warga asing ketiga dari negara barat yang tewas saat berjuang bersama pejuang Kurdi saat melawan IS.
Sebelumnya, warga negara Inggris bernama Konstandinos Erik Scurfield dan WN Australia bernama Ashley Johnston tewas dalam bentrokan di tempat lain di Hasakeh.
Menurut Pengamat Suriah untuk HAM, setidaknya 40 pejuang Kurdi tewas dalam pertempuran di Tal Tamr.
Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi dari pemerintah Jerman mengenai informasi ini. Selain nama, hingga saat ini belum juga diketahui bagaimana wanita Jerman itu bergabung bersama pasukan Kurdi untuk melawan IS.
Saat ini, anggota wanita yang tergabung dalam pasukan pelindung masyarakat Kurdi dikabarkan mencapai 35 persen. Jumlahnya diperkirakan mencapai 7000 orang dan mendapat pelatihan yang sama layaknya laki-laki. (Kompas/infoduniamiliter.com)
⬆
Top