Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

Tentara AS ditemukan Tewas di Korsel

Seorang tentara Amerika Serikat (AS) yang ditugaskan di korps batalyon intelijen di Jepang ditemukan tewas di pangkalan militer Angkatan Darat AS di Korea Selatan (Korsel). Tentara AS itu diklaim tewas saat latihan militer di Korsel.

Kematian tentara AS itu disampaikan pihak militer AS, dalam sebuah pernyataan pada Kamis (18/6/2015). “Jasad Michael William Corey, seorang petugas bintara dari Oro Valley, Arizona, ditemukan Senin oleh warga Korea di dekat pinggiran Kamp Jackson, basis Angkatan Darat AS di sebelah utara dari Ibu Kota Korsel, Seoul,” bunyi pernyataan militer AS.

“Corey meninggal saat melakukan pelatihan navigasi darat di Kamp Jackson. Militer AS dan Korea belum tahu penyebab kematiannya. Insiden sedang dalam investigasi,” lanjut pernyataan itu, seperti dikutip Reuters.

Ada sekitar 28.500 tentara AS yang ditempatkan di Korsel. AS diketahui telah mempertahankan jumlah pasukan militernya secara besar-besaran sejak Perang Korea 1950-1953.

Corey diketahui merupakan seorang analis intelijen yang ditempatkan di korps tentara AS, di sebuah markas militer di Jepang. Tapi, dia sedang menjalani pelatihan di Korsel. 

Sedangkan Kamp Jackson merupakan basis pelatihan untuk petugas bintara AS, serta peserta wajib militer Korsel yang dilengkapi fasilitas canggih. (sindo/infoduniamiliter )

IS Gempur Barak Militer Shofawiyyin di Mantiqoh Zawba’



Tentara Islamic State di wilayah selatan Baghdad baru-baru ini melancarkan serangan terhadap posisi dan barak militer rezim syiah Shofawiy di mantiqoh Zawba’, sebagaimana yang dirilis rekaman dokumentasinya oleh kantor beriya wilayah al Januub.
Mujahidin IS melakukan penyerangan menggunakan berbagai jenis persenjataan, dari ringan, menengah, dan berat.(azzammedia /infoduniamiliter )

Khotbah Biksu Myanmar Serang Muslim Rohingya

DVD khotbah biksu bersaing dengan DVD bajakan film Hollywood, lagu-lagu lokal, dan lainnya. Dalam salah satu DVD, seorang biksu menggunakan retorika sejarah untuk membentuk pemahaman pendengarnya bahwa Buddha di Myanmar dalam bahaya.


Independent, surat kabar Inggris, menulis khotbah sang biksu menandakan iklim ketakutan seribu tahun. Sebuah iklim yang memunculkan perilaku tak mencerminkan Buddhisme di kalangan para biksu, dan respon umat Buddha awam menghadapi tantangan yang ditimbulkan Muslim Rohingya.

Tidak seluruh biksu memperlihatkan perilaku tak-Buddhisme. Biksu U Withudda, U Seindita, dan U Zawtika, adalah tiga dari sedikit biksu yang menolak mengkhianati delapan jalan Sang Buddha.

Ketiganya menyelamatkan Muslim Rohingya yang meminta perlindungan, ketika terjadi aksi berdarah tahun 2012. Sumbangsih mereka diakui Parlemen Agama Dunia di Oslo.

Lainnya adalah biksu U Pinnyasiha, yang menyerang retorika anti-Muslim Rohingya. Namun, seperti tiga biksu penyelamat Rohingya, U Pinnyasiha tidak populer. Ma Ha Na, lembaga pemerintah Myanmar yang bertanggung jawab mengatur biarawan, melarangnya berkotlah.



"Semua negara tetangga Burma; Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, Indonesia, dan Malaysia, awalnya pemeluk Buddha, Satu per satu mereka menyingkirkan berhala dan menjadi Muslim," lanjutnya.

"Selama sekian puluh tahun, dalam bentuk Muslim Rohingya, orang-orang barbar berada di pintu gerbang Myanmar."

Sejenak melihat ke belakang, paranoia seribu tahun ini datang begitu cepat. Tahun 2007, ratusan ribu biksu berpawai di jalan-jalan menyanyikan sutta metta -- sebuah sutra (lagu) cinta kasih kepada sesama.

"Semua mahluk yang bernafas dan diberkahi dengan hidup bahagia. Mari kita tumbuhkan semangat cinta tak terbatas," demikian para biksu bernyanyi.

Tidak ada klausul dalam sutta metta bahwa Muslim Rohingya tidak termasuk mahluk yang harus dicintai. Syair dalam sutta meta mencakup semua, tanpa kecuali.

Lima tahun setelah aksi ratusan ribu biksu menyanyikan sutta metta di jalan-jalan, kerusuhan rasial -- yang digerakan sekelompok biksu radikal -- merebak di jalan-jalan Yangon dan kota-kota lain.

Anehnya, mengapa hanya Muslim Rohingya yang menjadi target serangan. Bukankah Yangon dan Mandalay, dua kota terbesar di Myanmar, adalah rumah bagi ribuan Hindu, Muslim non-Rohingya, Kristen, Tao, Yahudi, dan atheis.

Muslim non-Rohingya terdiri dari Muslim Kaman, Muslim Panthay, dan Muslim Burma, dengan latar belakang etnis berbeda. Kristen dianut hampir semua etnis di Myanmar.

Biksu dan nasionalis Buddhis tahu apa yang harus dikatakan ketika menghadapi pertanyaan ini. Muslim Rohingya adalah kalar -- sebutan merendahkan untuk orang berkulit gelap. Jika demikian, Tamil Myanmar juga harus dimasukan ke dalam 'kalar', tapi mengapa tidak dilakukan.

Mungkin, alasan paling tepat para biksu adalah karena Muslim Rohingya adalah etnis minoritas non-Buddhis terbesar di Myanmar, dengan populasi 1,5 juta. Dalam pandangan biksu fanatik, Myanmar adalah rumah terakhir kemurnian Buddhisme, dan harus tetap murni.

Serangan terhadap Muslim Rohingya mungkin langkah awal dari upaya permunian Myanmar sebagai negara Buddhisme. Komunitas keagamaan lain, yang jauh lebih kecil, adalah sasaran berikut.

Buddhisme dan otoritas terjalin erat di Myanmar selama berabad-abad. Jalinan itu sempat putus tahun 2007, ketika 30 biksu yang berdemo menentang pemerintah ditembak mati di jalan-jalan.

Setelah itu otoritas militer Myanmar dan sangha, urutan tertinggi dalam monastik Buddha, memperbaiki hubugan mereka. Inggrid Jordt, antropolog AS yang menjadi biarawati Buddha, mengatakan pemerintah Myanmar tidak bisa mengabaikan bahwa selama 800 tahun pengusaya Myanmar akan selalu tergantung pada sangha.

Sangha dalah hpoun, sumber spiritual. Sangha harus menyediakan hpoun kepada penguasa. Penguasa tidak punya legitimasi tanpa hpoun. Pada gilirannya, penguasa terpantronisasi dan mendukung para biksu.

Namun hubungan ini bukan tanpa gangguan. Akan selalu ada biarawan durhaka, yang menolak mendukung pemerintah. Ini terlihat ketika junta militer menghadapi Aung San Suu Kyi.

Beruntung, junta militer mendapat banyak dukungan para biksu, dan Suu Kyi tidak punya cukup dana untuk membeli biarawan. Terlalu sedikit biksu yang menentang retorika anti-Muslim Rohingya membuat Suu Kyi memilih diam ketika di depan hidungnya orang-orang diperas untuk mati pelan-pelan.

Pekan lalu, para biksu yang tergabung dalam Ma Ba Tha Sayadaw -- atau Organisasi Perlindungan Ras dan Agama -- memperluas cakrawala chauvinisme-nya. Caranya, akan memboikot jika partai tidak mendukung Buddhisme ikut pemilu.

Junta militer, yang katanya sedang melakukan demoktratisasi, tidak melakukan apa-apa. Di sisi lain, terlalu sedikit biksu yang mengingatkan bahwa apa yang dilakukan Ma Ba Tha bertentangan dengan delapan jalan Sang Buddha.

Aung San Suu Kyi, dengan Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), juga diam melihat sikap tidak demokratis di hadapannya.

Situasi ini menguatkan asumsi ketika agama dan kekuasaan bergandeng tangan yang muncul adalah kejahatan terhadap demokrasi dan kemanusiaan. Itu tidak hanya terjadi di Myanmar, tapi juga di Sri Lanka.

Tidak ada yang bisa dilakukan U Pinnyasiha, sang biksu 'durhaka', kecuali mengatakan; "Jika orang terus berlatih tiga hal; moralitas, kebijaksanaan, dan intelektual, maka dharma dan kebijaksanaan Buddha tidak akan lunur. Jika orang melatih ketiganya, Buddha akan menghilang dari dunia ini. [acw/inl/idp/rojul/voaislam/infoduniamiliter )

Hadapi IS, PM Irak Minta Bantuan Khamenei

Perdana Menteri Irak Haider el-Abadi dikabarkan akan melakukan pertemuan dengan pemimpin spiritual tertinggi Iran sekaligus pemimpin aliran syiah diseluruh dunia, Ali Khamenei. Abadi menemui Khamenei untuk meminta bantuan guna melakukan perlawanan terhadap IS.

"Dia (Abadi) akan bertemu dengan pemimpin tertinggi Ali Khamenei dan pejabat Iran lainnya untuk membahas beberapa isu, termasuk upaya internasional untuk menghadapi IS," bunyi pernyataan kantor Perdana Menteri Irak, seperti dilansir Al Arabiya pada Rabu (17/6/2015).

Iran sejatinya sudah beberapa kali memberikan bantuan kepada Irak untuk membantu negara tersebut melawan IS. Abadi diduga ingin meminta kepada Iran untuk meningkatkan bantuan militer ke Irak, untuk melawan IS. Sebagaimana negara-negara barat dan arab dalam membantuk pemerintahan syiah ini dalam menghadapi IS.

"Secara geografis dan sejarah antara kedua negara, memberikan hak kepada Iran untuk membantu kami dalam melawan ancaman ini (IS). Dan, apa yang mereka (Iran) lakukan merupakan bagian dari upaya internasional untuk membantu kami, sama halnya dengan apa yang dilakukan Selandia Baru, Australia atau Amerika Serikat (AS)," kata Abadi beberapa waktu lalu.
(esn/sindo/infoduniamiliter )

Ini Negara dengan Puasa Terlama

Umat Muslim di seluruh dunia telah memulai puasa Ramadhan. Puasa dilakukan paska makan Sahur, atau saat adzan Subuh bergema dan berakhir saat adzan Maghrib dikumandangkan.

Namun, tidak semua negara memilki rentang waktu yang sama antara waktu Subuh hingga waktu Maghrib.

Beberapa negara ada yang memiliki rentang waktu kurang dari 12 jam, namun di sejumlah negara lainnya ada yang lebih dari 18 jam.

Seperi dilansir Huffingtonpost pada Rabu (17/6/2015), Islandia menjadi negara dengan rentang waktu paling panjang. Umat Muslim di negara tersebut setidaknya harus berpuasa selama kurang lebih 22 jam.

Panjangnya waktu berpuasa membuat beberapa praktisi kesehatan khawatir dengan kondisi umat Muslim di Islandia. Namun, beberapa ulama di Islandia menyarankan umat Muslim di sana untuk berpuasa dengan mengikuti waktu di Mekkah.

Sedangkan Chili menjadi negara dengan rentang waktu yang paling pendek di dunia. Di negara tersebut umat Muslim hanya akan menjalani puasa selama kurang dari 10 jam, tepatnya umat Muslim di Chili hanya akan berpuasa selama sembilan jam.

Berikut adalah daftar perbandingan waktu berpuasa di beberapa negara di seantero dunia. (sindo/infoduniamiliter )

AS Gelontorkan Dana 5 Juta Dolar Untuk Perangi IS di Nigeria

Pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa negaranya akan memberikan bantuan senilai 5 juta dolar AS kepada 5 negara Afrika untuk berpartisipasi dalam memerangi Tentara Islamic State yang menguasai wilayah luas di Nigeria.

Dalam keterangannya pada hari Selasa (16/06) kemarin, Linda Thomas Greenfield menjelaskan bahwa pasukan gabungan Afrika akan terdiri dari tentara militer Nigeria, Chad, Niger, Kamerun, Benin melalui konversi Uni Afrika.

Linda Thomas Greenfield menekankan bahwa AS siap membantu pasukan gabungan Afrika dalam kampanye menargetkan IS. IS di Nigeria dulunya merupakan organisasi jihad yang bernama 'jamaah ahlusunnah liddakwah waljihad' atau yang dikenal barat dengan 'Boko Haram'. Setelah deklarasi khilafah oleh Islamic State di Irak dan Suriah, maka organisasi ini pun meggabungkan diri.

Tercatat pemerintah AS telah menyediakan bantuan senilai 34 juta dolar AS kepada Chad, Niger dan Kamerun dalam bentuk perlengkapan dan peralatan militer untuk membantu mereka dalam memerangi Islamic State di Nigeria. (Skynewsarabia/Ram/infoduniamiliter )

Korut Alami Kekeringan Terdahsyat Sepanjang Sejarah

Korea Utara (Korut) dilaporkan tengah dilanda bencana kekeringan. Menurut laporan kantor berita Korut, KCNA, kekeringan yang terjadi pada tahun ini adalah yang terburuk yang pernah melanda Korut dalam kurun waktu 100 tahun terakhir.

"Ini adalah kekeringan terburuk yang pernah melanda Korut dalam waktu 100 tahun terakhir, dan telah menyebabkan kerusakan besar dalam bidang pertanian," bunyi laporan KCNA, seperti dilansir Reuters pada Selasa (16/6/2015).

Berdasarkan laporan KNCA, kekeringan ini telah menyebabkan warga Korut kekuranan pangan kronis. Sawah-sawah di hampir seluruh Korut, termasuk di dua lumbung padi di negara tersebut, yakni Hwanghae dan Phyongan mengering karena tidak mendapat asupan air yang cukup.

PBB sejatinya sudah memperingatkan Korut akan kemungkinan adanya kekeringan dahsyat yang melanda tahun ini. Peringatan tersebut, menurut Koordinator PBB untuk penduduk Korut, Ghulam Isaczai, muncul setelah melihat kondisi yang terjadi di Korut pada tahun lalu.

Isaczai mengatakan, tanda-tanda kekeringan dahsyat mulai terlihat ketika tahun lalu curah hujan di Korut mencapai titik terendah dalam kurun waktu 30 puluh tahun terakhir. Dirinya berharap, peringatan yang mereka berikan membuat warga Korut sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi saat ini.

"Saya pikir dan berharap kondisi pangan di Korut tidak seburuk situasi serupa yang terjadi tahun lalu. Sebab, masyarakat sekarang jauh lebih tangguh, dan saya yakin mereka sudah menyiapkan bahan pangan cadangan," kata Isaczai.
(esn/sindo/infoduniamiliter )
⬆
Top