Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

Bom Martir Guncang Benteng Tentara Syiah di dekat Baiji, Irak

Empat operasi serangan bom martir kembali mengguncang dan meruntuhkan benteng pasukan rezim Shofawi di sekitar kota Baiji, wilayah Sholahuddin, pada Selasa (20 Romadhon). Lebih dari 50 tentara reguler Shofawi dan militan Hasyad Sya’biy dilaporkan tewas terbunuh dan luka-luka.
“Serangan bom syahid terkonsentrasikan di pinggiran luar kota Baiji bagian barat dan selatan,” reporter Azzam Media melaporkan.
“Sedangkan baku tembak sengit antara Mujahidin melawan pasukan Shofawi membara di barat kota Baiji,” imbuhnya.
Data informasi yang sampai ke meja redaksi memberikan urutan penyerangan bom martir tersebut, dimulai oleh Khabbab al Jazrowiy, menargetkan posisi pasukan syiah Shofawi di selatan kota Baiji.
Sementara itu, tiga amaliyyah istisyhadiyyah sisanya oleh Abu Khottob al Jazairiy, Abdurrahman asy Syisyaniy, dan Abul Yaman al Mishriy melancarkan serangan bom martir di barat madinah Baiji. [kholid/fudhail/azzammedia/infoduniamiliter]
Link:   http://bit.ly/1eHTjy0

Mencurigakan, NYSE Ditutup Mendadak

Bursa efek New York (NYSE), Amerika Serikat (AS), secara tiba-tiba ditutup pada pukul 11. 30 waktu setempat. Pihak berwenang menepis dugaan isu peretasan yang menyebabkan NYSE ditutup.

Penutupan tersebut menimbulkan tanda tanya. Namun pihak NYSE menegaskan penutupan hanyalah lantaran ada masalah teknis saja. “Kami mengalami masalah teknis dan bukan ada pihak yang berusaha meretas kami,” papar NYSE dilansir Reuters.

Hingga dini hari tadi NYSE belum dibuka kembali.  Mark Otto dari J Streicher & Co mengungkapkan tidak ada kepanikan saat NYSE ditutup. “Kami sekarang ini menanti instruksi (untuk kembali beraktivitas). Segalanya bisa dikendalikan,” paparnya dari lantai bursa.

Penutupan NYSE secara tiba-tiba ini terjadi tak lama setelah United Airlines mengalami masalah pada sistem komputernya. Maskapai tersebut tidak bisa beroperasi untuk beberapa jam kemarin di seluruh banadara di AS. Alhasil saham United Airlines anjlok 2,96% di harga USD52,70 per lembar.

Departemen Pertahanan AS pun menyatakan tidak ada kecurigaan akan penutupan NYSE. “Tidak ada hubungannya (dengan United Airlines),” demikian keterangan Departemen Pertahanan AS dilansir CNN.

Sedangkan Kepala Komisi Bursa AS Mary Jo White mengatakan akan terus memantau keadaan di NYSE hingga situasi kembali normal. Sebelum ditutup tiba-tiba, nyaris semua perdagangan berada di zona merah.

Sebelumnya, NYSE pernah ditutup secara tiba-tiba di tengah perdagangan atau terlambat beraktivitas saat Badai Sandy menerjang Oktober 2012 serta pada penyerangan teroris 11 September 2011 silam. Ketika badai salju menerjang Februari 1994 lalu, NYSE juga dibuka terlambat. (Sindo/infoduniamiliter)

Link:  http://bit.ly/1gpfES4

28 Militan Houthi Tewas Dalam Serangan Bom Mobil

Sekitar 28 Militan Syiah Houtsi kembali tewas terbunuh dan luka-luka oleh operasi serangan Intelijen Islamic State di Yaman, untuk membalas kekejaman dan penganiayaan mereka tersebut pada muslim Yaman.
Pada Selasa (20 Romadhon), agen Intelijen mujahidin menanam bom mobil menargetkan sarang dan markas militan Houtsi di dekat mantiqoh Babul Yaman, Hayy ar Rimah di ibukota Yaman, Shon’aa. Puluhan militan syiaj Houtsi tewas dan cedera. [fudhail/Azzammedia/infoduniamiliter]

AS Latih 60 Pemberontak Untuk Lawan Islamic State

Amerika Serikat (AS) menyatakan, pihaknya telah memberikan pelatihan kepada 60 orang anggota pemberontak Suriah. Pelatihan yang dimaksukan untuk membantu AS melawan IS di Suriah itu sudah dilakukan sejak pekan lalu.

Namun, menurut Menteri Pertahanan AS, Ashton Carter, jumlah tersebut jauh lebih kecil dari apa yang diharapakan oleh AS. Menurutnya, kesulitan terbesar adalah menyeleksi anggota pemberontak Suriah yang memiliki kemampuan dan mau dikendalikan sesuai standar Barat.

"Jumlah ini jauh lebih kecil dari yang kita harapkan pada saat ini. Kami kesulitan untuk menemukan calon yang cocok untuk kami latih," kata Carter dalam sebuah pernyatan, sepeti dilansir Middle Easr Online pada Rabu (8/7/2015).

Carter menuturkan, keberadaan pasukan pemeberontak Suriah sangat penting bagi operasi koalisi internasional pimpinan AS untuk mengalahkan IS. Sebab, dengan adanya pasukan pemberontak yang terlatih, maka koalisi memiliki pasukan di darat, yang mampu mendukung serangan udara.

"Kami tahu program ini sangat penting. Kami membutuhkan rekan di darat, untuk dapat memastikan bahwa kami bisa mengalahkan dan memusnahkan IS untuk selama-lamanya," Carter menambahkan.

Program pelatihan pemberontak Suriah sendiri mendapat penolakan keras dari pemerintah di Damaskus. Menurut mereka, setelah berhasil mengalahkan IS, para pemberontak yang sudah terlatih tersebut akan kembali melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan, yang berujung dengan runtuhnya pemerintaha Suriah dibawah pimpinan Bashar al-Assad.

Sebuah hal yang memang sejatinya diharapkan terjadi di Suriah oleh AS, dan beberapa sekutu mereka, bukan hanya di Barat dan Eropa, tetapi juga di kawasan Timur Tengah. (Sindo/infoduniamiliter )

Link:  http://bit.ly/1NPjIWd

Militer AS Akan Pangkas 40 Ribu Tentaranya


Militer AS akan memangkas sebanyak 40.000 tentaranya di dalam dan di luar negeri selama dua tahun ke depan. Seorang pejabat pertahanan mengemukakan hal itu Selasa (7/7/2015) waktu setempat dan dinilai sebagai sebuah langkah yang akan meningkatkan keraguan kemampuan militer negara itu dalam berperang.

Harian USA Today melaporkan, berdasarkan rencana pemotongan anggaran, militer AS hanya akan berkekuatan 450.000 tentara pada akhir tahun anggaran 2017, walau pada 2013 militer dalam dokumen anggarannya berpendapat bahwa kekuatan yang kurang dari 450.000 tentara mungkin akan berarti tidak akan bisa memenangkan perang. 

Sebagai perbandingan, harian itu melaporkan, jumlah personel militer AS membengkak menjadi 570.000 pria dan wanita pada puncak pertempuran di Irak dan Afganistan. 

Laporan USA Today juga menyebutkan bahwa selain tentara, sebanyak pegawai sipil yang bekerja untuk militer juga akan diberhentikan. Pejabat yang menjadi sumber AFP membenarkan laporan tersebut. 

Harian itu mengutip dokumen yang diperolehnya dan mengatakan, pemangkasan tersebut dilakukan untuk menghemat uang.

Menurut USA Today, langkah itu akan mempengaruhi hampir semua pos militer AS di dalam negeri dan luar negeri.

Pejabat pertahanan tersebut mengatakan kepadaAFP bahwa militer berencana untuk mengumumkan pemotongan itu segera. Sementara laporan USA Today menyebutkan bahwa masalah itu akan dibahas pada pekan ini.

Pemotongan anggaran pemerintah secara keseluruhan dijadwalkan akan mulai Oktober mendatang dan jika Kongres tidak mencegah hal itu, militer harus memberhentikan sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara. Demikian menurut dokumen yang dikutip USA Today itu.

Hal itu muncul hanya sehari setelah Presiden Barack Obama mengatakan bahwa koalisi yang dipimpin AS untuk memerangi Negara Islam akan meningkatkan serangannya di Suriah, serta memperingatkan bahwa pertempuran akan berlangsung lama. Ketika berbicara kepada wartawan setelah briefing di Pentagon hari Senin, Obama memperingatkan perang itu "tidak akan berlangsung cepat. Ini merupakan perang jangka panjang."

Obama menambahkan, banyak hal yang perlu dilakukan untuk melatih pasukan pemerintah syiah dan pejuang suku Sunni sekuler di Irak, serta pemberontak Suriah yang sekuler.

Menurut USA Today, sejumlah brigade yang ditempatkan di Fort Benning di Georgia dan Joint Base Elmendorf-Richardson di Alaska termasuk di antara yang akan dirampingkan. 

Senator Dan Sullivan, seorang Republikan dari Alaska, mengatakan kepada harian itu bahwa pemangkasan tersebut "tidak masuk akal secara strategis."

Lebih dari setahun setelah IS menguasai banyak wilayah Irak dan Suriah, Amerika Serikat dan sekutunya tengah berjuang untuk memerangi negara itu dalam lewat sejumlah serangan udara yang dikenal sebagai Operation Inherent Resolve.

Pentagon bulan lalu mengatakan, pihaknya sedang mengirim 450 tentara AS tambahan yang akan bertindak sebagai penasihat untuk membantu pasukan Irak dalam merebut kembali kendali di kota Ramadi dari IS. (Kompas/infoduniamiliter)

2 Tentara IS Hancurkan 13 Pesawat Tempur di Libya

Tentara Islamic State di wilayah Toroblus, Libya baru-baru ini melakukan operasi khusus menyabotase belasan pesawat tempur di Akademi Angkatan Udara kota Misrata, 187 kilometer timur ibukota Tripoli.
Pada Senin (19 Romadhon) kemarin, dua orang tentara IS dari unit pasukan khusus penyusup menyusup masuk ke dalam kompleks akademi militer dan melakukan aksi sabotase dengan menanam sejumlah bom, yang berhasil menghancurkan 13 unit pesawat tempur milik faksi shohawat Fajar Libya dimana selama ini melakukan serangan bombardir membunuhi kaum muslimin.
Dua tentara IS tersebut kemudian kembali menuju markas mereka dengan selamat, dan penuh kemenangan atas keberhasilan operasi militer khusus tersebut.[fudhail/Azzammedia/infoduniamiliter]

Markas Militer Prancis Kecolongan, Ratusan Peledak Dicuri



Sebanyak 40 buah granat, 180 detonator, dan peledak plastik dalam jumlah yang belum diketahui telah dicuri dari sejumlah gudang milik angkatan bersenjata Perancis.

Pencurian di pangkalan militer Miramas, sebelah barat kota Marseille, wilayah selatan Perancis itu, terjadi pada Minggu (5/7/2015) malam dan baru diketahui keesokan harinya.

Para pencuri itu diyakini memotong pagar yang membatasi wilayah pangkalan militer itu. Alhasil, Kementerian Pertahanan Perancis memerintahkan evaluasi masalah keamanan di seluruh pangkalan militer negeri itu.

Pangkalan militer Miramas yang memiliki areal seluas 202 kilometer persegi itu menjadi tempat penyimpanan amunisi yang digunakan militer Perancis yang bertugas di Mali dan Afganistan.

Wali Kota Miramas, Frederic Vigouroux, seperti dikutip kantor berita AFP, mengatakan, sebanyak sembilan gudang di pangkalan militer itu menjadi sasaran pencurian.

"Yang dicuri bukan kapas atau permen. Benda-benda yang dicuri ini adalah amunisi yang sangat berbahaya. Semua benda yang dicuri ini sangat berbahaya," ujar Wali Kota Viogouroux.

Perancis kini dalam kondisi siaga dalam mengantisipasi aksi-aksi terorisme pasca-serangan terhadap majalah Charlie Hebdo pada Januari lalu dan pemenggalan di dekat kota Lyon dua pekan lalu oleh seorang pelaku yang terkait dengan Islamic State. (Kompas/infoduniamiliter)

⬆
Top