Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

YPG Klaim Rebut Kota Tal Hamis dari IS / ISIS

Seorang juru bicara Unit Perlindungan Rakyat, atau YPG, mengukuhkan kepada VOA bahwa para pejuang Kurdi telah merebut kota Tal Hamis di provinsi Hassakah.

“Kemenangan ini merupakan pukulan kuat bagi ISIS karena mereka merencanakan penaklukan terhadap Qamishli dan kota-kota Kurdi lain di Suriah dan wilayah Sinjar di Irak dari kota itu,” katanya kepada VOA. Namun belum ada konfirmasi dari pihak IS, kita tunggu saja. (Voa/infoduniamiliter.com)

Korut Klaim Bersiap Perang Melawan AS, Gertak Sambal?

Pyongyang, - Ketegangan di semenanjung Korea meningkat. Bahkan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un menyerukan militernya untuk bersiap perang melawan Amerika Serikat dan sekutunya. 

Pernyataan Kim ini disampaikan setelah dimulainya latihan gabungan Angkatan Laut AS dan Korea Selatan (Korsel) yang melibatkan 10 kapal perang Korsel dan sebuah kapal penghancur AS, Aegis. Latihan ini dilakukan menjelang latihan militer berskala besar kedua negara, yang telah memicu kemarahan Korut.

"Situasi yang berlaku kini di mana perang besar untuk reunifikasi nasional sudah dekat, mengharuskan semua unit KPA (Militer Rakyat Korea) untuk menjadi Unit Garda (elit) yang benar-benar siap untuk perang secara politik dan ideologi, dalam teknik militer dan secara material," kata Kim seperti dikutip kantor berita resmi Korut, KCNA dan dilansir AFP, Sabtu (28/2/2015).

Pemerintah Korut kerap melontarkan retorika permusuhan di saat berlangsungnya latihan militer gabungan AS-Korsel yang berlangsung tiap tahun. Retorika ini telah meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea.

Menurut KCNA, Kim pun menyerukan militer Korut untuk berlatih keras guna "mencabik-cabik Stars and Stripes (bendera nasional AS)". 

Latihan militer gabungan AS dan Korsel akan berlangsung selama delapan pekan, yang melibatkan latihan udara, darat dan laut. Sekitar 200.000 tentara Korsel dan 3.700 tentara AS akan dilibatkan dalam latihan besar-besaran yang akan dimulai Senin, 2 Maret tersebut.

Pemerintah AS dan Korsel bersikeras bahwa latihan tahunan itu sifatnya hanya berbasis pertahanan. Namun Korut mengecamnya karena menganggapnya sebagai latihan provokatif untuk invasi. Apakah korut akan benar-benar membuktikan ancamannya? kita tunggu saja (detik/infoduniamiliter.com)

Menengok Aktivitas Polisi Lalu-lintas IS / ISIS

Mari menengok aktivitas Kepolisian Lalu Lintas Islamic State di kota Raqqah, Ibu kota Khilafah IS. Selain para polisi ini bertugas untuk mengatur jalannya lalu lintas, mereka juga bertugas untuk menjaga keamanan para pengguna jalan.

Sebagaimana polisi pada umumnya, polisi Daulah Islamiyah juga memeriksa kelengkapan surat-surat seperti SIM milik para pengguna jalan. Kantor Kepolisian IS juga mengadakan ujian untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi bagi para pengguna jalan.

Tokoh Oposisi Rusia Tewas Ditembak


 
Tokoh oposisi di Rusia, Boris Nemtsov, ditembak mati di dekat Kremlin, Moskwa. Nemtsov ditembak sebanyak empat kali dari belakang.

Nemtsov merupakan politisi yang juga mantan wakil perdana menteri yang sering mengkritik kebijakan Presiden Vladimir Putin. 

Saat ditembak, Nemtsov sedang berjalan di jembatan Sungai Moskwa. Ketika itu, ia bersama teman perempuannya yang berkewarganegaraan Ukraina, demikian menurut kesaksian seorang anggota polisi di sekitar lokasi.

Meski menjadi tokoh yang berseberangan dengan dirinya, Putin mengutuk pembunuhan tersebut. Putin justru menyebut pembunuhan itu terencana dan ada provokasi dari protes yang selama ini terjadi di Moskwa.

Kepolisian setempat langsung menutup jembatan Moskwa tempat terjadinya peristiwa. Polisi juga langsung menutup jalan menuju Kremlin dan Lapangan Merah. Seketika itu, mobil ambulans terlihat di lokasi.

Menurut aparat kepolisian, Nemtsov ditembak saat ada mobil berwarna putih yang melewati. Saat ini, saksi perempuan yang ketika itu bersama Nemtsov tengah dimintai keterangannya.

Sementara itu, rekan Nemtsov yang juga dari oposisi, Mikhail Kasyanov, mengatakan, penembakan dekat Kremlin itu tidak wajar. "Ini di luar apa yang kita bayangkan, ditembak dekat tembok Kremlin. Hanya ada satu kemungkinannya. Dia ditembak karena berbicara jujur."

Adapun Kasyanov sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri Rusia. Ia pun menyebut Nemtsov sebagai "pejuang kejujuran".

Nemtsov selama ini selalu memprotes kebijakan Rusia terhadap Ukraina. Ia pun menggelar beberapa kali protes dan unjuk rasa yang menentang perang di Ukraina yang pemberontaknya didukung oleh Rusia. (kompas/infoduniamiliter.com)

Identitas "Jihadi John" Terungkap

Informasi yang didapatkan BBC menyebutkan pria yang tampil di video-video eksekusi Islamic State telah diungkap oleh aparat keamanan dan intelijen Inggris.

Pria yang selalu tampil dengan pakaian hitam dan hanya tampak kedua matanya ini biasa disebut Jihadi John oleh media Barat karena fasih berbahasa Inggris.
Berdasarkan informasi yang dihimpun BBC, pria ini bernama Mohammed Emwazi, berasal dari London barat dan memegang kewarganegaraan Inggris.
Emwazi bukan nama asing bagi badan intelijen Inggris namun dalam beberapa bulan ini para pejabat memilih untuk tidak mengumumkan namanya agar tidak mengganggu penyelidikan.
Ia diyakini melakukan perjalanan ke Somalia pada 2006 dan diduga terlibat dalam kegiatan kelompok militan Al Shabab.
Emwazi, yang diperkirakan berusia antara 20-30 tahun, pertama kali tampil di video pemenggalan wartawan Amerika Serikat, James Foley, yang dikeluarkan IS Agustus 2014.
Ia juga tampil di video pemenggalan sandera IS lain seperti Alan Henning dan David Haines.
Bulan lalu ia tampil di video yang memperlihatkan dua sandera Jepang, Haruna Yukawa dan Kenji Goto, sebelum keduanya dibunuh.
Kawan-kawan Emwazi kepada koran The Washington Post, mengatakan bahwa Emwazi berasal dari keluarga berada dan mengambil jurusan komputer saat berkuliah.
Menurut koran ini Emwazi pergi ke Suriah pada 2012 dan kemudian bergabung dengan IS. (Bbc/infoduniamiliter.com)

Warga Australia yang Bergabung dengan YPG Tewas di Hassakah

Seorang warga Australia yang melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung Kurdi melawan Islamic State telah tewas, sebuah kelompok monitor, mengatakan pada hari Rabu (25/2/2015), menambahkan bahwa ia adalah orang Barat pertama yang mati bersama komunis Kurdi. 

"Seorang pria Australia tewas dalam serangan pada hari Selasa oleh Daulah Islam (IS) terhadap posisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dekat Tal Hamis di provinsi Hasakeh," kata direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) Rami Abdel Rahman. 

Observatorium telah melaporkan kematian itu pada Selasa, tapi tidak dapat mengkonfirmasi kewarganegaraannya sampai Rabu.

"Puluhan orang Barat telah bergabung dalam jajaran YPG. Ada orang asing yang berjuang di semua pihak yang berperang di Suriah," kata Abdel Rahman. 

"YPG tidak aktif merekrut orang asing, tetapi orang-orang dari negara-negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Australia, Belanda, Austria dan Prancis telah melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung dengan barisan mereka," katanya.

Beberapa dari mereka memiliki pengalaman tempur sebelumnya karena mereka telah bertugas di tentara. 

Pada jajaran mujahidin IS, Australia mengungkapkan pada bulan Desember bahwa 20 warganya yang telah melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak untuk bergabung IS telah gugur. 

Kurdi memerangi IS di berbagai front, dengan dukungan dari koalisi pimpinan AS yang melancarkan serangan terhadap posisi-posisi mujahidin pada bulan Agustus, dan Suriah pada bulan September. 

Orang-orang Kristen Barat juga telah melakukan perjalanan ke Irak untuk bergabung dengan kelompok "Tentara Salib" memerangi IS, seperti Dwekh Nawsha, yang namanya dalam bahasa Assyria berarti pengorbanan diri. Kelompok ini dibentuk setelah IS melancarkan serangan besar di sekitar wilayah Mosul Irak pada Juni lalu dalam serangan kilat yang menyebabkan jatuhnya kota kedua terbesar di Irak tersebut ke tangan IS hingga kini. (st/AFP/infoduniamiliter.com)

Perang Israel vs IS / ISIS Akan Segera Pecah

Channel televisi Israel 10 pada Senin malam (23/02/15) mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan operasi melawan pasukan Islamic State di Sinai, Mesir.

Dalam acara tersebut, seorang komentator militer, Alon Ben David, tidak menjelaskan dalam pembicaraannya tentang adanya koordinasi dengan tentara Mesir untuk operasi tersebut.

Sementara itu, seorang analis poilitik di radio Israe, Shimon Aran, mengatakan bahwa adanya kerjasama kemanan yang kuat antara Israel dan Mesir terutama dalam kondisi di Sinai.

Ia menjelaskan kepad Aljazeera bahwa kersejamasa tersebut diwujudkan dalam bentuk berkeliarannya pesawat tanpa awak Israel di Sinai untuk mengumpulkan informasi-informasi tentang pergerakan kelompok bersenjata dari Daulah Islamiyyah (ISIS).

Sementara situs berita Israel Walla dua bulan sebelumnya telah menyebutkan adanya kerjasama antara tentara Mesir dan Israel dalam memerangi Islamic State di Sinai.[usamah/dawaalhaq/infoduniamiliter.com]

⬆
Top