Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

IS Terlibat Perang Sengit Melwan Militer Irak di Kota Samarra

Kantor Media wilayah Shalahudin kembali merilis video yang menggambarkan dahsyatnya pertempuran di pinggiran kota Samarra’ di wilayah tersebut. (azzammedia /infoduniamiliter )

Sumber video:  Klik Disini

AS Pasok Peralatan Militer Israel dan Saudi

Amerika Serikat (AS) berencana untuk menjual ribuan bom dan rudal kepada Israel. AS juga hendak menjual 10 helikopter Seahawk kepada Arab Saudi.

Departemen Luar Negeri AS mengkonfirmasi bahwa rencana penjualan senjata AS kepada dua sekutunya di Timur Tengah itu telah diusulkan kepada Kongres AS. Rencana penjualan ribuan bom itu muncul di tengah kecemasan Israel atas negosiasi nuklir Iran.

Dalam sebuah kesepakatan penjualan senjata AS dan Israel, ribuan bom yang dijual AS itu antara lain 3.000 misil Hellfire, 250 misil jenis medium-range air-to-air, 4.100 bom glide, dan 50 "super" penetrator bom 50 BLU-113. Senjata-senjata tersebut didesain untuk menyerang lokasi bawah tanah.

”Tawaran penjualan senjata ini akan mendukung kemampuan Israel dalam mempertahankan diri,” kata pihak Agen Perusahaan Pertahanan dan Keamanan AS melalui seorang juru bicara, Kamis (21/5/2015).

Sedangkan kesepakatan dengan Saudi, AS berencana menjual 10 helikopter Seahawk MH-60R yang dilengkapi radar, sistem navigasi dan 38 rudal Hellfire.
(mas/sindo/infoduniamiliter )

Kuasai Palmyra, IS Semakin Dekati Pusat Damaskus

Islamic State pada Rabu malam (3 Rajab), mengumumkan kontrol penuh atas kota besar Palmyra atau Tadmur di bagian Timur Homs. Dengan dikuasainya kota bersejarah di masa imperium Romawi ini, Khilafah / IS telah menaklukkan dan membebaskan tiga buah kota di wilayah padang pasir Suriah tersebut selama satu pekan terakhir.
“Junud Daulah Islamiyyah menguasai penuh kota setelah menjepit pertahanan pasukan Nushairiyyah di Palmyra dari dua arah, Utara dan Selatan, kemudian menggempurnya dari arah Timur Laut yang memakan waktu lima hari pertempuran,” reporter Azzam Media melaporkan.
“Satu per satu pertahanan rezim berjatuhan, dari markas militer, hajiz atau pos checkpoint, hingga akhirnya Tentara Nushairiyyah menyerah dan pergi meninggalkan pusat kota, memberikan ruang bagi Mujahidin untuk menaklukkan semua teritorial Palmyra,” imbuhnya.
“Dengan jatuhnya kota ini, terbuka lebar pintu-pintu bagi Daulah Islamiyyah untuk memasuki semua kota besar dan semua provinsi di Suriah, diantaranya Hamah, Homs, dan Damaskus, dan memulai penaklukan atasnya. Karena letak Palmyra tepat berada di tengah negeri Syam ini.”
Selain berhasil menguasai teritorial kota, Khilafah juga merebut kontrol atas 60% kompleks kilang minyak Jazl, yang notabene fasilitas produksi minyak paling produktif dan kaya sumber daya di wilayah Homs. Darinya pula, sebagian besar sumber daya listrik Suriah dihasilkan.  [shuhayb/fudhail/azzammedia /infoduniamiliter )

PM Australia Tolak Pengugsi Rohingya

Perdana Menteri (PM) Australia, Tony Abbott, pada Kamis (21/5/2015), menyatakan penolakannya untuk menolong para pengungsi Rohingya jika masuk ke perairan Australia.

Australia di bawah kepemimpinan Abbott selama ini telah menerapkan kebijakan keras untuk mencegah para pengungsi atau “manusia perahu” masuk ke negara itu.

“Tidak, tidak, tidak,” kata Abbott ketika ditanya oleh wartawan, apakah ia akan menawarkan pemukiman kepada pengungsi Rohingya, sebuah kelompok minoritas Muslim yang tertindas di Myanmar.

Abbott berpendapat, para pengungsi adalah bagian dari penyelundup manusia. Menurutnya, Australia akan melakukan segala cara untuk mengakhiri praktik penyelundupan manusia. Dia yakin, cara itu merupakan kunci untuk menghentikan laju para “manusia perahu”.

”Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membuatnya benar-benar jelas bahwa jika Anda mendapatkan mereka di perahu yang bocor, Anda tidak akan mendapatkan apa yang Anda inginkan,” kata Abbott yang memastikan para pengungsi yang masuk ke Australia tidak akan mendapatkan kehidupan baru.

Sikap Abbott itu telah dikritik Indonesia, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nassir, mengatakan bahwa seharusnya Australia mengambil tanggung jawab terhadap para pengungsi. Sebab, Australia adalah salah satu negara yang menandatangani “Konvensi Pengungsi”.

”Negara-negara yang merupakan bagian dalam ‘Konvensi Pengungsi’ memiliki tanggung jawab. Hal ini untuk memastikan bahwa mereka percaya pada apa yang telah mereka tandatangani,” katanya, Kamis (21/5/2015).

(mas/sindo/infoduniamiliter )

IS Bersihkan Provinsi Janub dari Tentara Irak

Tentara Khilafah di wilayah Al Janub melancarkan operasi Ghazwah Zouba’, menyerbu markas militer rezim syia irak / Shafawi yang didukung oleh Iran dan AS.
Dalam operasi ini, mujahidin IS mendapatkan ghanimah / rampasan peranv yang banyak setelah berhasil membunuh sejumlah tentara Shafawi dan sisanya lari kabur. Beberapa tawanan pun di eksekusi. (azzammedia /infoduniamiliter )

Presiden Ukraina: Ini Perang Nyata dengan Rusia

Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, melontarkan pernyataan yang diyakini akan memicu kemarahan baru di Kremlin. Menurutnya, eskalasi ketegangan antara Ukraina dan Rusia bisa meningkat setiap saat.

"Saya jelaskan pada Anda, ini bukan perang dengan separatis yang didukung oleh Rusia, tapi perang nyata dengan Rusia,” tegas Poroshenko dalam wawancara dengan BBC, Rabu (20/5). Pernyataan ini didasari pada fakta tertangkapnya dua anggota pasukan khusus Rusia di Ukraina.

Selama ini, Rusia selalu menyangkal keterlibatan militer mereka dalam konflik di Ukraina, meski ada sederet bukti. “Faktanya, kami menangkap anggota pasukan khusus Rusia. Ini adalah bukti kuat,” lanjut presiden yang sangat pro dengan Barat itu.

Sebelumnya, Militer Ukraina telah memamerkan dua orang yang dituding sebagai anggota pasukan khusus Rusia. Menurut Militer Ukraina, keduanya memasuki medan pertempuran sejak dua bulan lalu. Keduanya ditangkap saat terlibat pertempuran di daerah Lugansk dan berasal dari Unit Pengintai Tentara Rusia.

Seorang juru bicara Ukraina Security Service mengatakan, tersangka telah didakwa dengan keterlibatan dalam "kegiatan teroris" dan sudah diberi kesempatan untuk menelepon keluarga mereka di Rusia.

Rusia sendiri tetap tak mengakui kedua orang itu sebagai anggota pasukan khusus mereka. ”Pada saat penangkapan mereka tanggal 17 Mei 2015, kedua warga Rusia yang ditangkap yakni Aleksandr Aleksandrov dan Yevgeni Yerofeev bukan anggota aktif dari Angkatan Bersenjata Federasi Rusia,” jelas juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov.
(esn/sindo/infoduniamiliter )

Stress, Kartunis Charlie Hebdo Mengundurkan Diri

Renald Luzier, kartunis pendesain karikatur yang menghina Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam di majalah Charlie Hebdo pada edisi Januari 2015 lalu, memutuskan untuk hengkang dari majalah satir tersebut.

Pria yang lolos dari serangan mujahidin Khilafah itu mengatakan kepada harian Prancis Liberation bahwa pekerjaannya menjadi kartunis “terlalu berat” selepas kematian rekan-rekan kerjanya. Sebanyak 12 orang tewas ketika dua mujahidin menyerang dan menembaki kantor redaksi Charlie Hebdo pada 7 Januari lalu. Penyerangan itu terjadi sehubungan dengan pemuatan karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam di majalah tersebut.

“Setiap edisi terasa seperti penyiksaan karena rekan-rekan saya sudah tidak ada. Saya menghabiskan malam-malam tanpa tidur memikirkan Charb, Cabu, Honore, Tignous. Sangat melelahkan,” kata Luz.

Penerbitan karikatur yang melecehkan kehormatan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam sontak menuai berbagai aksi protes dan kecaman di sejumlah negara mayoritas muslim.

Dia bergabung dengan majalah itu pada 1992, dan mengatakan pengunduran diri ini adalah “pilihan pribadi”. Bulan lalu, Luz mengumumkan dirinya akan berhenti menggambarkan karikatur Nabi Muhammad karena sudah tidak tertarik lagi.

Dia mengaku beberapa orang mendesaknya untuk tinggal. Namun Luz mengatakan dalam wawancara sebelumnya bahwa jaminan keuangan telah menimbulkan pertanyaan mengenai arah editorial untuk masa mendatang. Kabarnya majalah Charlie Hebdo yang dulunya nyaris bangkrut, sekarang disokong dana puluhan juta euro.
[M/dbs/infoduniamiliter)
⬆
Top