Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

Pemerintah Ukraina dan Pemberontak Pro-Rusia Barter Tawanan

Kubu pemberontak pro-Rusia membarter ratusan tawanan dengan pemerintah Ukraina dekat Kota Donestsk di bagian timur negara tersebut.

Dalam kesepakatan itu, pemerintah Ukraina sepakat membarter 225 anggota milisi pro-Rusia yang ditawan untuk 150 serdadu Ukraina. Belakangan, pemerintah Ukraina meralat dengan menyebutkan telah membebaskan 222 anggota milisi untuk ditukar 146 serdadu.

Sejauh ini, kesepakatan tersebut ialah barter terbesar antara kedua pihak.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun BBC, pertukaran tawanan dilaksanakan di dekat Kota Avdiyivka, sekitar 35 kilometer sebelah utara Donestsk.

Media Ukraina dan Rusia menayangkan jajaran pria berpakaian sipil di sebuah jalan yang diawasi kumpulan pria bersenjata.

“Mereka hanya memberitahu kami bahwa hal ini akan terjadi. Saya menantikan untuk bertemu orang tua dan istri saya. Mereka tidak tahu saya akan datang,” kata serdadu Ukraina yang dibebaskan, Artem Syurik, sebagaimana dikutip kantor berita Associated Press.

Di sisi lain, anggota milisi yang dibebaskan, Denis Balbukov, mengatakan, “Saya ingin makan kentang goreng dan bertemu kerabat saya. Saya akan kembali bertempur. Kondisinya baik-baik saja ketika kami dipindahkan ke pusat tahanan, tapi kemudian mereka benar-benar menyiksa kami,” ujarnya.

Perundingan damai antara pemerintah Ukraina dan kubu pemberontak di Minsk, Belarus, bubar pada Rabu (24/12) tanpa ada kejelasan kapan negosiasi berlanjut. Namun, kedua kubu diyakini masih menjalin kontak melalui Skype.

Kendati eskalasi konflik bersenjata antara kedua kubu telah menurun, koresponden BBC di Kiev, David Stern, mengatakan ketegangan masih berlanjut dan lebih dari 1.300 orang telah tewas sejak gencatan senjata diumumkan pada September lalu.(kompas/DM)

Penyerang Supermarket yahudi Mengaku Sebagai Tentara IS/Negara Islam

Sebuah video yang menampilkan seorang pria yang mirip dengan pelaku penyerangan terhadap toko atau supermarket milik Yahudi di Paris, Amedy Coulibaly (32 tahun) muncul di dunia maya.

Amedy Coulibaly bersama Hayat Boumeddiene (26 tahun) adalah pelaku penyerangan sebuah supermarket di Paris Perancis pada Rabu (7/1/2015) yang menewaskan 4 orang Yahudi. Serangan itu sendiri hampir berbarengan dengan serangan ke kantor majalah penghina Islam Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang.

Seperti dilansir Al Arabiya pada Minggu (11/1/2015), pria dalam video itu mengaku sebagai salah satu tentara Negara Islam/Islamic State yang berada di Perancis. Dirinya menyatakan akan terus melakukan serangan terhadap polisi Perancis. “Saya datang untuk melakukan perlawanan terhadap Polisi (prancis),” ungkapnya.

Dalam teks yang tercantum dalam video itu, nampak penjelasan bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan sejumlah orang Yahudi dan polisi wanita (polwan) di Paris Perancis dan serangan terhadap supermarket khusus Yahudi.

Keaslian video itu sendiri masih diperdebatkan karena belum ada satu pihakpun, termasuk polisi yang melakukan verifikasi terhadap video itu. Amedy Coulibaly dan Hayat Boumeddiene yang juga sebagai istrinya saat ini menjadi buruan kepolisian Perancis. Boumeddiene sendiri saat ini dikabarkan sudah keluar dari Perancis dan berada di Suriah. (PM/DM)

AS Akan Selenggarakan KTT Anti-Teror

Amerika Serikat mengatakan akan menyelenggarakan KTT anti-teror di Washington bulan depan guna menanggulangi aksi teror, sementara pemimpin-pemimpin Eropa dan Amerika menyerukan langkah yang lebih tegas dalam pengawasan dunia maya dan perbatasan.

Jaksa Agung Amerika Eric Holder yang sedang berada di Paris untuk mengikuti konferensi tentang terorisme pasca serangan pekan lalu di kota itu yang menewaskan 17 orang, hari Minggu (11/1) mengumumkan bahwa KTT anti-teror tersebut akan dilangsungkan pada 18 Februari mendatang.

Dalam pernyataan tertulis, Gedung Putih mengatakan KTT itu akan menyoroti “langkah-langkah terbaik dan upaya segera beberapa komunitas Amerika yang melakukan program ujicoba mengatasi ekstrimis.

Sejumlah menteri dalam negeri dan menteri kehakiman dari negara-negara Eropa dan Amerika berkumpul di Paris hari Minggu, menyerukan ditingkatkannya pengawasan di internet dan keamanan yang lebih ketat di perbatasan guna mengatasi serangan seperti terhadap kantor tabloid murahan “Charlie Hebdo”.

Menteri Dalam Negeri Perancis, Bernard Cazeneuve yang mengikuti pertemuan itu mengatakan Eropa harus memperbaiki sistem saling tukar informasi di perbatasan dan melakukan pelacakan yang lebih baik terhadap penumpang yang bepergian antar negara.

Cazeneuve mengatakan meski dilakukan peningkatan pengawasan, “kebebasan fundamental” akan tetap dihormati. 

Apakah KTT ini akan lebih membahas pada penanganan teror saja atau kepada penyebab teror yang mana hal itu sebenarnya disebabkan kebijakan negara mereka sendiri. Prancis misalnya, tercatat terlibat dalam pemboman terhadap penduduk sipil di wilayah Negara Islam, sementara majalah Charlie Hebdo juga sudah berulang kali menghina Nabi Muhammad SAW yang amat dihormati seluruh umat Islam. Daripada AS dan Eropa menghabiskan energi solusi-solusi yang pasti gagal, mengapa tidak kepada solusi yang pasti berhasil yaitu berhenti ikut campur dalam dunia Islam dan hormati umat Islam, itu saja. Atau AS dan Eropa mau hidup selamanya dalam ketakutan? mari kita tunggu hasil KTT tersebut (VOA/DM)

FBI: Serangan ke Sony Berasal dari Server Korea Utara

Direktur FBI, James Comey mengatakan para peretas yang menyerang Sony bulan lalu ceroboh, melakukannya langsung dari sebuah server yang secara khusus digunakan oleh Korea Utara.

Comey hari Rabu (7/1) mendesak masyarakat intelijen untuk membuka informasi yang membuktikan bahwa para peretas menggunakan server-server yang terkait langsung dengan pemerintah Korea Utara.

Pejabat-pejabat Amerika sebelumnya menuduh Korea Utara meretas komputer-komputer perusahaan Sony. Korea Utara menyangkal terlibat tapi memuji serangan dunia maya itu.

Serangan itu terjadi setelah Korea Utara memperingatkan Sony agar tidak merilis film komedi “The Interview” yang menggambarkan pembunuhan fiktif pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. 

Comey Rabu menyampaikan komentar pada konferensi keamanan dunia maya di New York. Direktur Intelijen Nasional Amerika, James Clapper, yang juga berbicara di konferensi itu menyebut serangan dunia maya itu sebagai yang paling serius terhadap kepentingan-kepentingan Amerika. Dia memperingatkan. Korea Utara akan melanjutkan serangan-serangan internet terhadap kepentingan Amerika jika Amerika tidak mengambil tindakan

Akhir bulan lalu, FBI memperingatkan bahwa para peretas yang menyebut diri mereka " Pengawal Perdamaian," mungkin berikutnya akan menarget organisasi-organisasi berita terkemuka Amerika.(VOA/DM)

Israel Suka Islam yang "Normal"

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan pujian kepada Perancis yang bertindak tegas terhadap perilaku terorisme dan anti-Semitisme (Anti Yahudi). Pujian Netanyahu ini diucapkannya saat berada di Sinagoga Agung Paris (Tempat Ibadah Terbesar Yahudi di Paris), usai mengikuti aksi solidaritas jutaan orang yang mengutuk penyerangan kantor majalah satir Charlie Hebdo yang menewaskan 3 kartunis penghina Nabi Muhammad SAW, pemimpin redaksinya, serta polisi penjaganya pada Minggu (11/1/2015) waktu setempat.


"Musuh bersama kita adalah Islam yang radikal, yang ekstremis. Bukan Islam yang normal," kata Netanyahu. 

Rangkaian penyerangan yang terjadi di Perancis memang tak hanya terjadi saat penembakan di kantor Charlie Hebdo. Penyerangan yang dilakukan oleh kakak beradik Cherif Kouachi dan Said Kouachi, serta Amedy Coulibaly juga menewaskan setidaknya 5 orang lain.

Satu polwan tewas ditembak oleh Coulibaly sebelah selatan kota Paris. Tidak hanya itu, Coulibaly juga menewaskan 4 orang Yahudi dalam penyanderaan di kosher atau supermarket khusus masyarakat Yahudi.

Tidak jelas apa yang dimaksud oleh PM Israel sebagai Islam yang "normal". Hal ini patut dipertanyakan sebab dalam sejarah, Israel-lah yang datang ke tanah Palestina, merampas tanah mereka dan membunuhi penduduk sipil setempat. Apakah muslim yang tinggal di Palestina adalah Islam yang "tidak normal" menurut definisi Israel? Apakah muslim harus rela tanahnya diambil dan dibunuhi oleh Israel baru disebut sebagai Islam yang "normal"? !(kompas/DM)

Begini Kronologi Penyerangan Kantor Charlie Hebdo

Jaksa Paris, Fancois Molins mengatakan para penyerang kantor majalah Charlie Hebdo masuk melalui pintu depan gedung, lalu membunuh satu orang di pintu masuk.

Dikutip dari Reuters, mereka kemudian naik ke lantai dua dan melepas tembakan saat rapat redaksi sedang berlangsung. Rapat itu dihadiri oleh delapan wartawan, seorang polisi yang ditugaskan untuk melindungi pemimpin redaksi Charlie Hebdo dan seorang tamu.

“Apa yang kami lihat adalah pembantaian. Banyak dari korban dieksekusi, sebagian besar dari mereka terluka di kepala dan dada,” kata Patrick Hertgen, seorang petus medis gawat darurat yang dipanggil untuk menangani para korban kepada Reuters.

Rekaman video dari luar bangunan merekam dua orang berjaket dengan penutup kepala berteriak “Allahu Akbar!” berbarengan denga suara tembakan. Satu orang berjalan ke arah polisi yang berbaring terluka dan menembaknya dengan senapan serbu. 

Keduanya lantas dengan tenang naik ke mobil berwarna hitam dan pergi dari sana.

Diantara korban tewas adalah editor Stephane “Charb” Charbonier, bersama dengan Georges Wolinski, Jean “Cabu” Cabut dan Bernard Verlhac, yang dikenal sebagai “Tignous”. Mereka dikenal sebagai kartunis berbakat di Perancis. 

Belum ada klaim siapa yang melakukan serangan namun sebuah surat kabar, 20 Minutes, mengutip seorang saksi yang mengatakan salah seorang penyerang berteriak “Katakan pada media bahwa ini adalah al-Qaeda di Yaman!”

Polisi Perancis mencari tiga orang, dua diantaranya bersaudara, yang diduga terlibat dalam serangan mematikan itu.

Menurut keterangan polisi, satu dari pelaku meninggalkan kartu identitasnya di mobil yang digunakan.

“Ada kemungkinan serangan lain dan tempat-tempat lain diamankan,” kata Rocco Contento, pejabat serikat polisi.

Pemerintah Perancis mengumumkan tingkat siaga tertinggi, meningkatkan pengamanan di transportasi umum, situs-situs religius, kantor-kantor media dan pusat perbelanjaan, sekaligus untuk memburu para dugaan pelaku.

Reporter Reuters melaporkan polisi bersenjata terlihat berpatroli di pusat-pusat perbelanjaan dan diluar ikon Perancis, Arc de Triomphe.

Tahun lalu, Perancis memperkuat undang-undang anti-terorisme dan mengimbau warganya untuk waspada akan serangan militan Islam yang kemungkinan menyerang warga Perancis dan kepentingannya sebagai balasan atas keikutsertaan Perancis dalam serangan udara di Suriah dan Irak. Dimana serangan itu menewaskan ratusan sipil muslim di Irak dan Suriah yang dikuasai Negara Islam. 

Kantor Majalah Charlie Hebdo kemungkinan diserang karena sering mempublikasikan kartun Nabi Muhammad SAW, yang sangat dihormati oleh seluruh umat Islam di dunia. Tidak hanya melecehkan Nabi Muhammad SAW, majalah itu juga pernah melecehkan tokoh Kristen, Yahudi dan pejabat-pejabat negara. Bahkan beberapa jam sebelum penyerangan, Charlie Hebdo sempat mengunggah kartun Abu Bakar Al-Baghdady yang menjabat Khalifah di Negara Islam. Barat memang memegang prinsip "kebebasan berbicara dan berekspresi", namun setelah peristiwa ini, masihkah ada yang memanfaatkan prinsip itu demi menjual majalah murahan? kita lihat saja. (CNN/DM)

Korsel Mengaku Akan Diserang 6.000 Tentara Cyber Korut

Enam ribu tentara cyber dilaporkan telah siap menyerang sistem pertahanan Korea Selatan. Ribuan tentara internet tersebut berasal dari Korea Utara, negara tetangga sekaligus seteru abadi Korea Selatan.

Seperti dikutip KompasTekno dari Reuters, Rabu (7/1/2014), laporan rencana peretasan oleh negara yang dipimpin Kim Jong-un ini diungkap Kementerian Pertahanan Korea Selatan. 

“Korea Utara telah menyiapkan 6.000 pasukan militer cyber untuk melumpuhkan kami secara fisik dan psikologi dengan menyerang operasi militer dan infrastruktur nasional kami,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

Menurut Reuters, Korea Utara telah sejak lama menyiapkan angkatan perang khusus dunia maya dalam pasukan cyber yang dinamakan Biro 121. 

Menurut pengakuan pihak Korea Utara, target jangka panjang pasukan tersebut itu adalah jaringan telekomunikasi dan perusahaan energi di negara-negara lawan. Dalam laporan terbaru ini, Korea Selatan yang disebut bakal menjadi target Biro 121.

Sebelumnya, Korea Selatan pernah menuding Korea Utara bertanggung jawab atas kekacauan sistem negaranya pada tahun 2013. Saat itu, sistem komputer pada bank-bank dan industri penyiaran di Korsel tumbang selama berhari-hari.

Korea Utara belakangan banyak dibahas sebagai dalang peretasan Sony Pictures Entertainment pada akhir tahun lalu. Agen federal AS, FBI secara resmi menyatakan bahwa Korea Utara merupakan dalang peretasan Sony Pictures.

Meski Korea Utara membantah sebagai dalih di balik peretasan itu, belakangan diketahui melalui kantor berita KCNA bahwa pemerintah Korea Utara mengungkapkan pernyataan bernada pujian terhadap Guardians of Peace, nama kelompok peretas Sony.

Inti pernyataan Korea Utara menyebutkan bahwa siapapun yang meretas Sony Pictures telah melakukan tindakan yang sesuai dengan himbauan Korea Utara terhadap penduduk dunia untuk berjuang melawan imperialisme Amerika Serikat.(Kompas/IDM)
⬆
Top