Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

Arab Saudi Mulai Serang Militan Houthi di Yaman

Arab Saudi dan negara-negara Teluk sekutu AS sedang melancarkan operasi militer terhadap pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Operasi besar-besaran tersebut melibatkan serangan udara dan serangan darat.

Menurut Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat, Adel al-Jubeir, serangan udara Saudi dkk itu dimulai pada Kamis (26/3) pukul 23.00 GMT atau pukul 06.00 WIB. Dikatakannya, Saudi beraksi demi membela pemerintahan "sah" yang dipimpin Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi.

Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah Menteri Luar Negeri Yaman Riad Yassin memohon negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk melakukan intervensi militer. 

Menurut stasiun televisi al-Masirah yang dikelola Houthi, seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (26/3/2015), salah satu serangan udara Saudi dkk menargetkan kawasan pemukiman penduduk di sebelah utara ibukota Sanaa. Akibatnya, puluhan orang tewas.

Belum ada konfirmasi dari otoritas Yaman mengenai korban jiwa ini.

Dalam operasi militer ini, Saudi mengerahkan 100 pesawat tempur dan 150 ribu tentara. Selain itu, pesawat-pesawat dari Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain juga ikut serta dalam operasi besar-besaran ini.

Mesir, Pakistan, Yordania dan Sudan saat ini juga siap untuk berpartisipasi dalam operasi pertempuran di darat. 

"Kampanye ini tujuannya untuk mencegah para pemberontak Houthi menggunakan bandara-bandara dan pesawat untuk menyerang Aden dan bagian-bagian Yaman lainnya serta mencegah mereka menggunakan roket-roket," tutur Menteri Luar Negeri Yaman Riyadh Yaseen.

Sebelumnya dalam statemen bersama, lima negara Teluk Arab: Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Qatar telah memutuskan untuk bertindak melindungi Yaman dari apa yang mereka sebut sebagai agresi milisi Houthi yang didukung Iran.

Kota Aden di Yaman selatan kini menjadi basis Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi setelah meninggalkan ibukota Sanaa, yang sejak Februari lalu dikuasai pemberontak Houthi. Dengan turut sertanya raja-raja teluk sekutu AS, maka perang tiga kubu akan segera meletus. 3 kubu itu adalah Syiah yang didukung Iran, Sekutu AS dan Islamic State.(Detik/infoduniamiliter.com)

TNI Gelar Latihan Militer di Poso, Warga Mengungsi

Sebanyak 175 orang warga yang tinggal di dua dusun dan satu desa di Poso, Sulawesi Tengah, akan dievakuasi ke kampung lain sehari sebelum latihan perang TNI digelar. Mereka diungsikan untuk menghindari korban jiwa saat latihan gabungan TNI tersebut.

Warga yang dievakuasi itu berasal dari Dusun Tamanjeka, Dusun Sipatuo dan Desa Weralulu, Kecamatan Poso Pesisir. Mereka akan dipindahkan ke Desa Lape dan Desa Tokorondo pada Senin (30/3/2015) mendatang. Komandan Distrik Militer (Dandim) 1307 Poso Letkol Infanteri Eron Firmansyah kepada sejumlah media, Rabu (25/3/2015) menjelaskan, evakuasi warga dilakukan hanya satu hari atau selama 12 jam atau paling lama 16 jam.

Menurut Eron, sejauh ini pihaknya melalui perangkat desa setempat telah melakukan pendataan dan menyampaikan imbauan agar warga untuk sementara tinggal dan menginap di tempat yang sudah disiapkan seperti kantor balai desa dan rumah-rumah penduduk di Desa Lape dan Tokorondo.
Dandim menambahkan, tidak semua warga Poso Pesisir dievakuasi. Mereka yang diungsikan, tempat tinggalnya berdekatan dengan lokasi latihan gabungan.

"Jadi, saya tegaskan tidak semua warga Poso Pesisir akan dievakuasi, hanya sebagian kecil saja dangan pertimbangan keamanan yang kemungkinan akan terkena dampak dari sasaran serangan udara TNI," jelas Dandim.

Selain demi alasan keamanan, ratusan warga dievakuasi untuk diberikan bantuan obat-obatan dan pengobatan gratis dengan melibatkan puluhan tenaga medis dari TNI dan RSU Poso. Mereka selanjutnya akan diperbolehkan pulang paling lambat sehari setelah puncak kegiatan latihan perang atau paling lambat pada Kamis (2/3/2015).

Untuk menghindari terjadinya aksi pencurian terhadap rumah warga yang dievakuasi, pihak TNI telah memberikan jaminan keamanan dengan menempatkan sejumlah personel TNI di wilayah tersebut. 

Apakah TNI ke Poso "hanya" untuk latihan militer atau bersiap-siap perang melawan MIT (Mujahidin Indonesia Timur)?. Meski konflik Poso telah mereda, sampai saat ini MIT yang dipimpin Santoso masih eksis di Poso. (Tribun/infoduniamiliter.com)

Saudi, Qatar, Turki dan Yordania Latih FSA untuk Lawan Islamic State

Senin 23 Maret 2015, pemerintah Jordan mengumumkan niatnya untuk berpartisipasi dalam pelatihan pejuang sekuler Suriah dalam menghadapi Negara Islam  (Islamic State) dan tentara Rezim Bashar Al Assad.
Dalam pengumuman juru bicara pemerintah Yordania, Mohammad Momani, hari Senin kemarin mengatakan, “Jordan siap bergabung dengan negara-negara kawasan untuk melatih pejuang moderat Suriah, serta bekerjasama dengan anggota koalisi untuk membantu rakyat Suriah dan pejuang –pejuang disana untuk melawan Negara Islam dan tentara rezim Bashar Al Assad.”
Mohammad Momani menjelaskan bahwa niat Jordan untuk melatih pejuang moderat Suirah adalah untuk menghabisi Islamic State yang telah membunuh warga mereka, mengacu pada pilot Moaz Kasabeh yang dibakar secara hidup-hidup dalam rekaman yang disebarkan Negara Islam pada 4 Februari lalu. Padahal Yordania  yang lebih dulu menyerang Islamic State.
Jordan sendiri adalah salah satu negara koalisi internasional yang aktif membombardir situ-situs penting milik mujahidin di Suriah dan Irak.
Tercatat Turki dan Arab Saudi dan Qatar menjadi sejumlah negara pertama yang bersedia untuk menjadi patner Amerika Serikat dalam melatih pejuang moderat Suriah.
Kongres AS sendiri telah menyediakan dana sebesar 500 juta dolar AS untuk melatih sekitar 5 ribu pasukan moderat Suriah selama satu tahun kedepan. (Skynewsarabia/Ram)

Iran Bentuk Milisi di Suriah

Komite Suriah untuk Media mengungkapkan bahwa Iran telah membentuk brigade milisi Syiah baru di wilayah Gunung Arab, Suriah, dengan nama “Labbaik Ya Salman”.
Surat kabar Koran Zaman Suriah dalam pemberitaannya menyatakan bahwa Iran secara serius merekrut pemuda dari Jabal Arab untuk menjadi milisi baru mereka dengan slogan Ya Salman, sejajar dengan Ya Hussein atau Ya Zainab dalam Syiah.
Koran Zaman menuding bahwa langkah Iran ini semakin menjerumuskan Suriah dalam perang sekterian antara Sunni dengan Syiah.
Nama Brigade Syiah Labbaik Ya Salman Sendiri diambil nama salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Salman Al farisi, yang berasal dari wilayah Persia, akan tetapi beliau menganut aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menghormati 4 Khulafaur Rasyidin. Tidak seperti Syiah yang mencaci dan menuding 3 Khilafah sebelum Ali merebut Kekhilafahan dari Ali bin Abi Thalib. (Alarabiya/Ram/infoduniamiliter.com)

AS Bantu Milisi Syiah Irak Lewat Udara

Pemerintah AS mengatakan akan menyediakan dukungan pengintaian udara untuk pasukan Irak yang sedang bertempur untuk merebut kembali kota Tikrit dari tangan Negara Islam (IS). Demikian seorang pejabat pemerintah AS menjelaskan, Selasa (24/3/2015).
Bantuan pengintaian udara itu akan membantu pergerakan pasukan Irak dalam operasi militer terbesar mereka sejauh ini dalam menghadapi IS. Saat ini pasukan Irak masih mengepung kota itu namun belum berhasil merebut kembali kota tersebut.
"Koalisi sudah menyediakan bantuan intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR) sejak 21 Maret 2015 atas permintaan pemerintah Irak. AS kini sudah memberikan dukungan itu," ujar seorang perwira senior koalisi yang tak mau disebutkan namanya.
Operasi militer untuk merebut kembali Tikrit dimulai pada 2 Maret lalu yang melibatkan sekitar 30.000 personel militer, polisi dan milisi-milisi bersenjata Syiah.
Operasi militer besar-besaran itu hanya berhasil merebut sejumlah desa kecil di sekitar Tikrit. Namun, merebut kembali kota itu ternyata tak mudah karena IS telah mempersiapkan pertahanan yang kuat termasuk menanam bom-bom ranjau di jalanan dan menempatkan sniper di gedung-gedung. Sampai saat ini 6000 pasukan syiah tewas, padahal Islamic State hanya menempatkan 1500 pasukan saja, namun rahasia kekuatan IS yang tidak bisa ditandingi oleh militer manapun adalah tidak "takut akan kematian". (Kompas/infoduniamiliter.com)

Bom Sisa Perang Dunia II Gegerkan Pemukiman di Inggris

Penghuni sekitar 1.200 rumah di sebuah kawasan permukiman padat di London, Inggris, Selasa (24/3/2015), harus dievakuasi saat tim penjinak bom bekerja untuk mengamankan sebuah bom sisa Perang Dunia II seberat 445 kilogram.
Dewan pemerintah setempat harus menginapkan sedikitnya 80 orang di sejumlah hotel serta menyediakan makanan hangat dan minuman di sebuah pusat kebugaran dan perpustakaan yang digunakan untuk lokasi pengungsian.
Bom berukuran besar itu ditemukan para pekerja di sebuah lokasi pembangunan gedung di kawasan Southwark, di sisi selatan Sungai Thames, pada Senin (23/3/2015).
Setelah penemuan bom itu dilaporkan, kepolisian mendirikan batas dalam radius 100 meter dari lokasi bom itu. Area keamanan itu kemudian diperlebar hingga 400 meter.
Southwark adalah kawasan industri dan komersial yang paling menderita saat dihujani bom dalam kampanye serangan udara Jerman yang dikenal dengan nama "The Blitz" antara 1940-1941.
Kampanye serangan udara Jerman atas Inggris itu menewaskan setidaknya 20.000 warga sipil di London saja. Serangan udara itu dilakukan Jerman agar Inggris lumpuh dan menyerah. Akibat serangan udara besar-besaran itu, banyak sisa bom yang tak meledak kemudian ditemukan puluhan tahun setelah perang usai.
Antara 2009-2014, pasukan pemadam kebakaran London menemukan setidaknya tujuh bom sisa Perang Dunia II yang tidak meledak. Selain itu, ditemukan juga lima buah granat. Namun, evakuasi besar-besaran, seperti yang terjadi di Southwark ini, belum pernah terjadi. (Kompas/infoduniamiliter.com)

Pebisnis Israel Salah Satu Korban Kecelakaan Pesawat Germanwings

Satu dari 150 orang korban tewas pesawat nahas Germanwings dipastikan berkewarganegaraan Israel. Kepastian ini muncul setelah Kementerian Luar Negeri Israel mendapat konfirmasi yang meyakinkan.
Dilansir dari The Jewish Daily Forward, Rabu (25/3/2015) satu pria warga negara Israel itu berprofesi sebagai pebisnis yang hidup di Jerman. Pria itu bernama Eyal Baum dan berusia 40 tahun.
Sebagian media Israel menyebut Baum tinggal di Barcelona Spanyol. Namun yang jelas, Baum hendak pergi ke Jerman saat menumpang pesawat Airbus A320 bernomor penerbangan 4U 9525 itu.
Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan keluarga Baum, yakni Hod Hasharon di Israel tengah, telah diberi tahu. Sebelumnya pihak keluargalah yang mengontak kementerian guna mencari tahu kepastian soal Baum.
Kini kotak hitam pesawat itu telah diketemukan. Pengumpulan serpihan pesawat diperkirakan bakal memakan waktu berhari-hari karena sulitnya medan evakuasi. (Detik/infoduniamiliter.com)

Top