China Jadi Pemegang Utang Terbesar AS, Jumlahnya Rp 50.400 TriliunChina
merupakan pemegang utang terbesar surat utang (obligasi) yang
diterbitkan pemerintah Amerika Serikat (AS), jumlahnya US$ 1,3 triliun
atau sekitar Rp 50.400 triliun pada Juni lalu. Guncangan ekonomi China
bikin AS deg-degan. Kenapa?
Saat ini, Negeri Tirai Bambu sedang membutuhkan uang tunai untuk
menstabilkan pasar keuangannya, seperti kejatuhan pasar saham yang
terjadi belakangan ini. Kondisi tersebut bisa membuat China berhenti
membeli surat utang pemerintah AS.
China selama ini menjadi salah satu tumpuan pemerintah AS untuk menutup defisit anggarannya, lewat surat utang yang diterbitkan.
Namun saat ini, China mulai menjual surat utang pemerintah AS miliknya,
untuk mendapatkan uang tunai. Apalagi, China sedang berusaha mengucurkan
uang tunai sehingga pasar sahamnya stabil, dan mata uang yuan tidak
jatuh terlalu dalam. Ada juga stimulus ekonomi berbentuk tunai lain yang
diberikan.
Sepanjang Agustus, jumlah cadangan devisa China turun US$ 94 miliar,
menjadi US$ 3,6 triliun. Banyak analis menyatakan, penurunan cadangan
devisa ini karena penjualan surat utang pemerintah AS.
Prediksi bahwa China akan menyetop pembelian surat utang pemerintah AS,
menimbulkan kekhawatiran, biaya bunga utang pemerintah AS akan makin
meningkat ke depan. Karena itu, bank sentral AS, Federal Reserve (The
Fed) diprediksi bakal menaikkan bunga acuannya pekan ini, sehingga surat
utang pemerintah AS bakal menarik untuk investor.
"Jumlah dana asing yang keluar dari China melonjak dan yuan ikut
tertekan. Satu-satunya yang bisa dilakukan China adalah menjual surat
utang untuk membeli mata uangnya sendiri," kata analis, Walter Zimmerman
dilansir dari CNN, Senin (14/9/2015).
China tidak bermaksud menjatuhkan perekonomian AS. Banyak orang
khawatir, China bisa menghancurkan ekonomi AS, karena besarnya jumlah
surat utang pemerintah AS yang dipegang negara tirai bambu ini.
Penjualan surat utang pemerintah AS oleh China bisa membuat imbal hasil
(yield) surat utang ini meninggi. Ini bisa jadi masalah, karena bunga
surat utang pemerintah AS menjadi acuan bunga kredit, seperti kartu
kredit dan kredit kepemilikan rumah (KPR).
Belum ada yang tahu seberapa besar kebutuhan uang tunai China untuk
menyelamatkan yuan dan pasar sahamnya. Namun yang pasti, China bakal
berhenti membeli surat utang pemerintah AS. Akankah keguncangan di pasar
keuangan dunia berlanjut?
Finance.detik.com