Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

IS Training 25.000 Penduduk Aleppo Timur

Sebanyak 25.000 orang menghadiri acara Training Ilmu Syariah atau Daurah Syar’iy yang digelar oleh Departemen Dakwah dan Masjid Islamic State selama 10 hari di pinggiran timur Aleppo. Mereka yang hadir berasal dari desa-desa di bagian barat sepanjang sungai Furat, dari utara kota Jarablus hingga timur kota Manbij. 

Dalam acara tersebut, mereka semua menerima sesi kajian Aqidah dan Fiqh. Semua Daurah Syar’iyyah ini dilakukan menyusul peluncuran salah satu program Departemen Dakwah dan Masjid yang dinamai “Operasi Desa”, dilaksanakan di seluruh wilayah yang dikontrol oleh IS di Suriah.(azzam/kabarduniamiliter)

Kuil Syiah di Arab Saudi Diserang, 2 Tewas


Setidaknya, dua orang tewas dalam sebuah ledakan dan serangan bersenjata terhadap kumpulan di satu kuil Syiah di Arab Saudi.

Menteri Dalam Negeri Arab Saudi menyatakan, dua orang tewas dan tujuh luka-luka dalam serangan yang terjadi di kuil Imam Reza di kota Mehasin yang terletak di kawasan timur negeri itu.

Beberapa laporan dan gambar video yang beredar di media sosial menyatakan, seorang bersenjata meledakkan bom di pintu masuk kuil, kemudian berlari masuk ke kuil sambil melepaskan tembakan. Pelaku bisa ditaklukkan, lalu ditahan oleh petugas keamanan.

Hingga kini, belum jelas apakah mereka yang terlibat dalam serangan ini berjumlah lebih dari satu orang.

Kaum penganut aliran sesat Syiah di Arab Saudi sebelumnya pernah mengalami serangan yang dilakukan oleh IS. Di Irak dan Suriah pasukan Assad dan milisi syiah yang dibantu AS kerap menyiksa kaum muslimin bahkan membakar hidup-hidup mereka. IS mengobarkan perang pada seluruh penganut syiah, sebab kiblat mereka satu, yaitu Iran yang sampai saat ini mendukung penuh rezim bengis Bashar Assad.
(Kompas/kabarduniamiliter)

Pengungsi Dilempar Granat di Jerman

Seorang penyerang tak dikenal melemparkan granat ke sebuah penginapan yang menampung pengungsi di Jerman barat daya, menurut pihak berwenang.

Granat ini ditemukan pada malam hari dekat gedung yang menampung 170 orang pengungsi di Villingen-Schwenningen. Pin pengaman granat itu dicabut, tetapi granat tidak meledak.

Menteri Kehakiman Heiko Maas menyatakan serangan itu merupakan tingkat baru "kebencian dan kekerasan" terhadap para pengungsi. Lucunya hal itu tidak disebut sebagai terorisme, barat memang munafik dalam hal ini. Penghuni penginapan kemudian diungsikan, sementara ahli penjinak bom mengamankan granat tersebut.

Juru bicara kepolisian mengatakan "sangat beruntung" tak ada yang terluka karena granat tersebut. Serangan granat ini memperlihatkan kenaikan jumlah serangan terhadap penampungan migran dan pengungsi belakangan ini.

Selama tahun 2015 terjadi 1.000 serangan, sedangkan tahun 2004 ada 199 serangan.
Diduga kelompok kristen ultra kanan berada di belakang serangan tersebut. (Kompas/kabarduniamiliter)

Jabhah Nushrah Tiba-Tiba Serang IS di Tengah Malam

Militan Jabhah Nushrah pada Rabu (27 januari 2016) tengah malam lalu, secara tiba-tiba melancarkan penyerangan dari tiga arah terhadap pos-pos Islamic State atau Daulah Islamiyyah di lembah Zamroniy, Qolamun Barat, pinggiran Damaskus. Pasukan Daulah Islamiyyah segera merespon dengan melakukan serangan balik, yang akhirmya menewaskan militan Jabhah Nushrah, dan melukai enam lainnya.

Sementara itu sisanya lari mundur. Menurut koresponden lapangan A’maaq, eskalasi ketengangan yang terjadi antara dua pihak kembali meningkat baru-baru ini. Sementara itu, pasukan Daulah Islamiyyah selama beberapa hari belakangan tengah mengonsentrasikan serangan terhadap posisi-posisi tempur pasukan rezim Suriah di sekitar Markas Brigade Militer ke-128 di Qolamun Timur, dan berhasil menguasai beberapa daerah perbukitan dan titik strategis lainnya. (Azzam/kabarduniamiliter)

TNI: Warga Poso Jangan Bantu Santoso

TNI dan Brimob yang tergabung dalam Operasi Tinombala 2016 masih memburu Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Santoso atau Syeikh Abu Wardah di hutan pegunungan di Poso, Sulawesi Tengah. TNI juga melakukan propaganda di desa-desa di sekitar kaki gunung di Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso Pesisir, Poso Pesisir Selatan serta Napu di Kecamatan Lore Timur. 
Komandan Komando Resort Militer 132 Tadulako Kolonel Infantri Syaiful Anwar kepada VOA di Mapolres Poso mengatakan dalam operasi teritorial itu petugas Babinsa dan TNI berulangkali menghimbau masyarakat untuk tidak membantu MIT dalam bentuk apapun, khususnya bahan makanan. Ia menilai bila tidak ada lagi pasokan bahan makanan akan membuat kelompok Santoso itu kelaparan dan akhirnya menyerah. Namun tidak sedikit masyarakat Poso yang membantu MIT sebab merekalah yang membela muslim dari pembantaian Kristen sejak dahulu. 
"Dalam rangka membantu Polri dalam hal ini Polda untuk kelompok Santoso ini kita melaksanakan tugas teritorial suatu contoh misal Babinsa kami, Danramil kami yang berada di kampung kampung untuk menghimbau kepada masyarakat yang dalam tanda petik mungkin memberikan bantuan kepada kelompok yang di hutan sana, kita menghimbau bahwasanya bantuan mereka itu tidak usah diberikan karena dengan begitu Poso ini akan selalu rusuh kalau mereka tetap diberi bantuan," kata Syaiful.
Syaiful Anwar menilai kelompok Santoso MIT bisa bertahan di hutan pegunungan karena masih adanya sebagian masyarakat yang memberi pasokan dan bahan makanan kepada mereka.
"Pasti, pasti ada bantuan, kalau tidak ada bantuan mereka mungkin sudah kelaparan dihutan sana, karena ada bantuan itulah mereka bisa bertahan terus di hutan, dan ini memang tugas kita untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk tidak memberikan bantuan," katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Operasi Daerah Tinombala 2016 Kombes Leo Bona Lubis, yang menekankan pentingnya kerjasama masyarakat untuk memberantas kelompok ini hingga ke akar-akarnya.
"Diharapkan masyarakat tidak membantu langsung maupun tidak langsung kelompok teroris Santoso dan jaringannya. Apalagi sebagai sponsor untuk mendukung kebutuhan kebutuhan mereka," kata Leo.
Hingga Rabu (27/1) Operasi Tinomba 2016 di Poso sudah memasuki hari ke 17. Aparat keamanan masih berupaya melacak keberadaan kelompok teroris Santoso di kawasan hutan pegunungan yang menjadi tempat persembunyian kelompok itu.[em/yl/voa/kabarduniamiliter]

Korut Uji Rudal Baru, Jepang Siaga Penuh

Pemerintah Jepang saat ini dilaporkan tengah bersiaga penuh, setelah adanya kemungkinan Korea Utara (Korut) melakukan uji coba rudal baru mereka. Korut diprediksi berencana melakukan uji coba rudal jarak jauh baru mereka.

"Jepang telah menempatkan militernya dalam kondisi siaga penuh untuk mengantipasi kemungkinan uji coba rudal balisitik yang dilakukan Korut, setelah semakin kuatnya indikasi mereka akan melakukan uji coba tersebut," ucap sumber militer Jepang dalam kondisi anonim.

"Peningkatan aktivitas di situs rudal Korut menunjukkan bahwa mungkin ada peluncuran dalam beberapa minggu ke depan," sambunnya, seperti dilansir Reuters pada Jumat (29/1).

Selain Jepang, Amerika Serikat (AS) juga dikabarkan tengah dalam siaga penuh terkait adanya kemungkinan uji coba rudal tersebut. AS takut Korut akan melakukan uji coba rudal antar benua, dengan hulu ledak nuklir. Indikasi akan adanya uji coba itu diperkuat dengan citra satelit di situs rudal Korut.

AS memang rajin memantau aktivitas Korut dari ruang angkasa. Sedangkan Jepang mulai memantau dari satelitnya sejak 2003. Korut sendiri sudah berhasil menempatkan satelit ke orbit dengan Unha-3 pada Desember 2012.

Meskipun Pyongyang bersikeras bahwa pengorbitan satelit itu murni operasi ilmiah, namun peluncurannya dikecam sejumlah negara karena dicurigai untuk kepentingan uji coba rudal balistik yang memang disamarkan.
(esn/sindo/kabarduniamiliter)

Jalan-jalan di Pasar Albu Rishwah di Ninawa

Meski saat ini Islamic State terus mendapatkan gempuran dari koalisi salib internasional, namun hal itu tidak menghalangi IS untuk tetap mengurus negaranya. Perekonomian rakyat tetap berjalan meski bisa jadi pesawat pengecut baik dari AS maupun Rusia menjatuhkan bomnya. Warga IS tidak takut dan tetap melanjutkan kehidupan mereka, kondisi mereka saat ini jauh lebih baik daripada ketika dikuasai pemerintahan Syiah Irak yang merupakan boneka penjajah AS. 

Kegiatan jual beli tidak melupakan mereka untuk datang ke tempat shalat ketika telah datang waktu shalat. Mereka melaksanakan shalat berjamaah sejenak dan membuka lagi tokonya setelah selesai shalat. (Azzam/kabarduniamiliter)










Top