Tajuk

Lokal

Islam

Barat

Timur

Like Us

Sejarah

Hadapi Korut, AS Perbanyak Senjata Anti Rudal


Menteri Pertahanan Amerika Serikat Ash Carter di Pangkalan Udara Korps Marinir, California, Rabu (3/2) waktu setempat, menyatakan, militer AS memantau ketat rudal dan program nuklir Korut.


Selain itu, lanjut Carter, AS juga terus-menerus memperkuat pertahanan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan rudal dari Pyongyang. Tak hanya menambah jumlah senjata penangkal serangan rudal, AS juga meningkatkan kualitas senjata-senjata anti rudal itu.



Carter menambahkan, marinir AS dan satuan-satuan militer lainnya selalu siaga untuk "bertempur malam ini juga" di Semenanjung Korea sebagai bagian strategi mencegah Korut meluncurkan serangan ke AS.



Selasa lalu, Korut memberi tahu Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai rencana meluncurkan satelit pada rentang waktu 8-25 Februari ini. Banyak kalangan mencurigai, Korut bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk peluncuran rudal jarak jauh menyusul percobaan senjata nuklir keempat mereka, 6 Januari lalu.



Pekan lalu, Badan Pertahanan Rudal AS menggelar uji coba sistem pertahanan rudal di darat, yang ditangani perusahaan Boeing. Uji coba itu dirancang untuk mematikan penggerak atau hulu ledak buatan Raytheon.



Seorang pejabat senior Boeing mengungkapkan, pihaknya juga akan menguji perbaikan tambahan dalam sistem pertahanan rudal darat tersebut, tahun ini. Uji coba itu untuk menjajal kemampuan sistem tersebut dalam menangkal rudal balistik antarbenua atau ICBM, seperti yang dikembangkan Korut dan Iran.



Selain meningkatkan sistem pertahanannya, Washington juga menyerukan sanksi baru bagi Korut terkait uji coba nuklir tersebut. PBB juga telah melarang Korut menggelar uji coba senjata nuklir atau rudal balistik.



Dongchang-ri



Seperti dilansir BBC, kantor berita Korea Selatan, Yonhap, mengutip pernyataan juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Moon Sang-gyun, yang menyatakan terjadi peningkatan aktivitas di area Dongchang-ri, tempat stasiun peluncuran Sohae.



Informasi serupa dilaporkan radio Jepang, NHK. Mengutip beberapa pejabat yang tidak disebutkan namanya, NHK menyebut adanya aktivitas di Dongchang-ri. Sebuah peluncur pengangkut rudal balistik juga terlihat bergerak, dekat pantai timur.



Moon juga mengungkapkan, militer Korsel meningkatkan kesiagaan pertahanan udara. Mereka siap menangkal rudal atau pecahan rudal apa pun yang jatuh ke teritorial Korsel.



Sebelumnya, Seoul memerintahkan maskapai-maskapai penerbangan komersial agar mengubah rute, menghindari jalur yang kemungkinan terdampak peluncuran rudal Korut.



Rabu lalu, Jepang juga telah mengumumkan kesiagaan militer sebagai antisipasi kemungkinan serangan rudal Korut. Mereka menyatakan bakal menembak setiap roket Korut yang mengancam wilayahnya.



Sementara itu, dari Moskwa dilaporkan, Kamis kemarin, Rusia menyerukan dengan serius kepada Korut agar Pyongyang tidak meluncurkan roket yang telah mereka rencanakan, bulan ini. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan, tindakan itu dapat meningkatkan ketegangan di Asia Timur Laut.



Seruan itu disampaikan langsung Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Igor Morgulov kepada Duta Besar Korut untuk Rusia Kim Jong Un.



Kim pimpin rapat



Kamis kemarin, kantor berita Korut, KCNA, melaporkan aktivitas pemimpin Korut Kim Jong Un menggelar rapat tingkat pejabat tinggi untuk membahas korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pengurus Partai Pekerja Korea (WKP).



Hal yang jarang dan tidak biasa, Pyongyang merilis laporan tentang korupsi di tubuh partai penguasa negeri itu. "(Rapat) itu secara umum mengkritik praktik-praktik penyalahgunaan kewenangan, pelanggaran kekuasaan dan birokratisme di partai tersebut," tulis KCNA.



Korupsi diyakini telah mewabah pada hampir semua strata di Korut. Suap-menyuap kerap dibutuhkan untuk semua urusan, mulai dari pencapaian karier hingga akses pada kebutuhan pangan dan obat-obatan. (AFP/REUTERS/SAM/kabarduniamiliter)

5 Tentara IS Hancurkan 50 Tentara Irak

Lima tentara Islamic State /  Daulah Islamiyyah dari detasemen pasukan khusus In-ghimasiyyin (penyusup) sebelum fajar hari ini (jumat 5 februari 2016) melancarkan operasi penyerangan terhadap kompleks perumahan militer (9 km di barat laut kota al Baghdadiy, Provinsi al Anbar bagian barat), terlibat dalam konfrontasi senjata sengit melawan pasukan Iraq dan milisi Shohawat selama beberapa jam, ditutup dengan ledakan bom rompi di tengah-tengah mereka.

Sumber-sumber A’maaq menuturkan, sebanyak 30 tentara Iraq tewas terbunuh, dan 20-an lainnya luka-luka dalam serangan tersebut.

Ini merupakan serangan yang kedua kalinya menargetkan kompleks perumahan militer, setelah serangan tanggal 27 Januari lalu, dimana enam unit detasemen pasukan khusus In-ghimasiyyin Daulah berhasil menewaskan dan melukai sejumlah besar unsur-unsur militer Iraq beserta para perwira mereka.(azzam/kabarduniamiliter)

Anggaran Militer AS Naik Empat Kali Lipat, Rusia Bereaksi

Moskow bereaksi dengan manuver anggaran Pentagon Amerika Serikat (AS) yang gila-gilaan pada 2017 untuk menghadapi Rusia. Total anggaran Pentagon disebut akan mencapai USD582,7 miliar atau empat kali lipat dari anggaran tahun sebelumnya.

Anggaran Pentagon itu untuk memperkuat pasukan AS di Eropa. Rusia bersumpah akan mengambil langkah-langkah untuk mengimbangi peningkatan kehadiran militer AS di Eropa.

Langkah-langkah simetris tidak mungkin, mengingat sejumlah besar uang mitra Amerika dialokasikan untuk tujuan ini. Tahun depan mereka bermaksud untuk mengalokasikan (anggaran) empat kali lebih dari sekarang,” kata Kepala Kerjasama Eropa Departemen Luar Negeri Rusia, Andrey Kelin, kepada RIA Novosti.

Kami akan melakukan langkah-langkah kompensasi untuk menjaga keseimbangan militer strategis yang normal,” ujar pejabat Rusia itu.

Kepala Pentagon, Ashton Carter, hari Rabu lalu mengkonfirmasi anggaran besar Pentagon untuk 2017, yang salah satunya untuk mengantisipasi Rusia karena dicurigai akan melakukan agresi terhadap sekutu-sekutu NATO di Eropa Timur.

Kami memperkuat postur kami di Eropa untuk mendukung sekutu NATO kami dalam menghadapi agresi Rusia,” kata Carter. ”Itu akan mendanai banyak hal. Rotasi pasukan AS di Eropa, pelatihan lebih banyak dengan sekutu kami dan perbaikan infrastruktur pendukung,” katanya lagi.

Berbicara di Economic Club of Washington, Carter mengatakan, pengajuan dana sebesar itu sejalan dengan kesepakatan Kongres tahun lalu, di mana Pentagon diminta fokus menghadapi lima tantangan besar AS. Kelima tantangan besar AS itu adalah Rusia, China, Korea Utara, Iran dan kekuatan paling mengancam AS yaitu Khilafah Islamiyyah (IS). (sindo/kabarduniamiliter)

Bersama AS. Saudi Akan Ikut Gempur IS

Militer Kerajaan Arab Saudi menyatakan siap meluncurkan perang darat di Suriah untuk memerangi Khilafah Islamiyyah atau Islamic State (IS). Saudi akan bergabung dengan dengan Amerika Serikat (AS) yang memimpin koalisi internasional anti-IS.

Kesediaan Saudi untuk menginvasi Suriah itu disampaikan juru bicara militer Saudi, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri dalam siaran televisi Al Arabiya, semalam.

Kerajaan ini siap untuk berpartisipasi dalam operasi darat, bahwa koalisi (anti-IS) mungkin setuju untuk melaksanakannya di Suriah,” katanya. Asseri juga dikenal sebagai juru bicara koalisi Teluk yang dipimpin Arab Saudi untuk operasi militer di Yaman.

Jika ada konsensus dari pimpinan koalisi, Kerajaan (Arab Saudi) bersedia untuk berpartisipasi dalam upaya ini, karena kami percaya bahwa operasi udara bukan merupakan solusi yang ideal dan harus ada campuran ganda operasi udara dan darat,” ujar Asseri.

Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby, mengapresiasi kesediaan anggota koalisi AS untuk memerangi Islamic State (IS). Tapi, dia enggan berkomentar soal keinginan Saudi meluncurkan perang darat di Suriah.

Saya tidak ingin berkomentar secara khusus mengenai ini, sampai kami punya kesempatan untuk meninjau itu,” ucap Kirby.

Koalisi anti-IS yang dipimpin AS telah melakukan serangan udara di Suriah sejak pertengahan 2014. Selama operasi militer, Presiden AS; Barack Obama telah berulang kali menyatakan bahwa tidak akan ada tentara darat AS yang beroperasi di Suriah. (sindo/kabarduniamiliter)

Melihat Kepolisian di Ibu Kota Khilafah

Islamic State atau Khilafah selama ini terkenal dengan ketangguhan militernya, namun sebenarnya bukan hanya militer kegiatannya. Sebagai negara baru yang menguasai sebagian besar Suriah dan Irak, IS juga harus mengatur ketertiban masyarakat yang tinggal di wilayahnya. 

IS memiliki satuan polisi yang bertugas menjaga keamanan warganya dan menghindarkan warga dari perselisihan. Polisi IS tentu berbeda dengan polisi di negara sekuler, tampak mereka tetap berjenggot lebat dan menggunakan seragam militer.

Berikut beberapa foto kepolisian di ibu kota IS, yaitu Raqqah.







Melanggar Lagi, Rusia Masih Gak Mau Ngaku

Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan sebuah pesawat tempur Rusia Su-34 memasuki wilayah udara Turki hari Jum’at (29/1) sekitar jam 09.45 UTC, meskipun pejabat-pejabat Turki dan NATO mengatakan telah memberi peringatan berulangkali.
Presiden Turki mengingatkan Rusia akan menanggung “konsekuensi” jika terus melakukan pelanggaran semacam itu, dan menyebut tindakan Rusia itu “tidak bertanggungjawab.” Pemimpin Turki itu berbicara kepada wartawan di bandara Istanbul ketika ia akan terbang ke Amerika Latin.
Pemerintah Turki mengatakan dengan memanggil Duta Besar Rusia di Ankara untuk menyampaikan protest.
Di Moskow, juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan “tidak ada pelanggaran apapun” yag dilakukan pesawat-pesawat tempur Rusia terhadap wilayah udara Turki.
Sekjen NATO Jens Stoltenberg menyebut masuknya pesawat tempur Rusia ke wilayah udara Turki itu merupakan tindakan “berbahaya” dan memastikan kembali solidaritas aliansi itu dengan Turki, sebagai anggota NATO. “Saya menyerukan kepada Rusia untuk bertindak secara bertanggungjawab dan menghormati sepenuhnya wilayah udara NATO. Rusia harus mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk memastikan supaya pelanggaran serupa tidak terjadi lagi”, demikian pernyataan tertulis Stoltenberg hari Sabtu. [em/voa/kabarduniamiliter]

Lebih 2000 Ibu Hamil di Kolombia Terserang Virus Zika

Menurut sejumlah dokter, Zika bisa dikaitkan dengan cacat lahir seperti kerusakan otak pada bayi baru lahir dan bisa menimbulkan kelumpuhan sementara.
Pihak berwenang di sejumlah negara Asia telah menasehatkan mereka yang ingin melakukan perjalanan, khususnya ibu hamil, untuk menghindari perjalanan ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Mereka meminta orang yang datang atau kembali dari daerah-daerah itu dan menunjukkan gejala-gejala seperti demam atau ruam untuk segera melapor ke klinik-klinik kesehatan. Dokter juga diharuskan segera melaporkan dugaan kasus Zika.
Sementara itu Institut Kesehatan Nasional Kolombia mengatakan negara itu telah mencatat 20.297 kasus penularan Zika, termasuk pada 2.116 ibu hamil. Dalam pernyataan yang dirilis hari Sabtu (30/1), institut itu merekomendasikan pasangan-pasangan untuk menunda kehamilan hingga 6-8 bulan.
Angka terbaru yang dilaporkan dalam bulletin epidemiologis institute itu akan menjadikan Kolombia sebagai negara kedua yang paling terkena dampak virus Zika di kawasan itu, setelah Brazil.
Di tengah wabah Zika, Presiden Amerika dan Brazil telah menyepakati “perlunya upaya kerjasama” untuk mengatasi penyebaran virus itu.
Setelah kedua pemimpin berbicara hari Jum’at lalu (29/1), Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Barack Obama dan Dilma Roussef mengakui perlunya kerjasama “untuk memperdalam pengetahuan, memajukan penelitian dan menyeleraskan upaya mengembangkan vaksin yang lebih baik dan teknologi lain guna mengendalikan virus tersebut.”
Badan Kesehatan Sedunia WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular CDC dan Organisasi Kesehatan Pan-Amerikca mengingatkan bahwa virus Zika menyebar sangat cepat di seluruh Amerika dan bisa menimbulkan dampak pada empat juta orang.
Untuk sementara waktu ini virus Zika dikaitkan dengan 4.000 dugaan kasus microcpehaly di Brazil, yaitu suatu kondisi bayi lahir dengan ukuran kepala dan otak yang kecil. Belum ada pengobatan bagi microcephaly atau virus Zika ini. [em/voa/kabarduniamiliter]

Top